Bagikan:

Organda Minta Ada Dispensasi Truk ODOL dalam Revisi UU Lalin, Khusus Angkutan B3

Hal ini supaya angkutan khusus B3 tidak lagi mendapatkan sanksi karena dianggap memiliki dimensi berlebihan (over dimension), padahal di sisi lain, sementartidak ada solusi untuk permasalahan itu.

NASIONAL

Kamis, 16 Jun 2022 02:21 WIB

Truk ODOL

Pemasangan stiker pada truk pelanggar aturan over dimension over load ODOL di Tol Cipularang. (Foto: ANTARA/Dok Humas Jasa Marga)

KBR, Semarang -- Organisasi Angkutan Darat (Organda) meminta adanya pemisahan antara angkutan over dimension dan over load (ODOL).

Ketua Organda, Adrianto Djokosoetono mengatakan keberadaan truk over dimension di Indonesia dikarenakan tidak adanya truk jenis pengangkutan khusus bahan berbahaya dan beracun (B3) yang spesifikasinya sesuai dengan standar yang ditetapkan di sini.

“Lalu juga dipisahkan antara over dimension dengan over load. Karena over dimension itu menurut kami ada 2 kepentingan ya, Pak. Ada angkutan khusus ataupun angkutan B3 yang memang secara spesifikasi tidak memungkinkan atau tidak ada speknya yang sesuai dengan dimensi yang diperbolehkan di sini," kata Adrianto dalam rapat masukan revisi Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di DPR, Rabu (15/6/2022).

Baca juga:


Ketua Organda, Adrianto Djokosoetono berharap pemerintah lebih tegas dalam menentukan spesifikasi dimensi angkutan B3 di Indonesia.

Hal ini supaya angkutan B3 tidak lagi mendapatkan sanksi karena dianggap memiliki dimensi berlebihan, padahal di sisi lain, tidak ada solusi untuk permasalahan tersebut.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan dispensasi terkait dimensi angkutan B3.

Selain meminta dispensasi bagi angkutan B3, Organda juga meminta adanya kejelasan mengenai pengembangan roadmap angkutan ODOL yang lebih efisien dan klasifikasi kelas jalan, serta pemanfaatan teknologi dalam penegakan regulasi mengenai angkutan ODOL.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mengkritik Klaim Pemberantasan Korupsi di Era Jokowi

Most Popular / Trending