Bagikan:

Jubir G20 Sebut Permasalahan Sampah Menumpuk di Indonesia

Sebanyak 67,2 juta ton sampah di Indonesia masih menumpuk setiap tahunnya. Dan 9 persennya atau sekitar 620 ribu ton masuk ke sungai, danau dan laut

NASIONAL

Kamis, 16 Jun 2022 19:20 WIB

Jubir G20 Sebut Permasalahan Sampah Menumpuk di Indonesia

Ilustrasi tumpukan sampah di Indonesia. (Antara-Dedhez Anggara)

KBR, Jakarta - Juru Bicara Pemerintah untuk Presidensi G20 di Indonesia Maudy Ayunda menyebut, saat ini dunia tengah berada dalam krisis lingkungan. Krisis itu disebabkan oleh ekstraksi sumber daya alam, produksi sampah yang berlebihan, dan kenaikan temperatur bumi yang sangat pesat.

Semua hal tersebut kata dia, sudah memperparah krisis iklim dan kerusakan bumi, salah satunya di Indonesia.

"Sebagai contoh mari kita bahas tentang isu sampah or waste. Menurut Indonesia National Plastic Action Partnership yang dirilis april 2020, sebanyak 67,2 juta ton sampah di Indonesia masih menumpuk setiap tahunnya. Dan 9 persennya atau sekitar 620 ribu ton masuk ke sungai, danau dan laut," kata dia saat konferensi pers daring, Kamis (16/6/22).

Dia menambahkan, diperkirakan per harinya 85 ribu ton sampah dihasilkan di Indonesia. Angka itu diperkirakan bakal naik hingga 150 ribu ton per hari pada 2025. Hal tersebut kata dia, sangat mengkhawatirkan.

Baca juga: Presidensi G20, Tito Sentil Kepala Daerah yang Buruk Kelola Sampah

Menurutnya, generasi muda memiliki peran sangat besar dalam mengubah perilaku menuju gaya hidup yang tidak melebihi batas kemampuan atau kapasitas bumi. Dia mendorong generasi muda berperan aktif, berkontribusi, serta berkolaborasi menjaga kelestarian dan keberlanjutan bumi.

Komitmen Jaga Kelestarian

Maudy Ayunda menyebut sejumlah usaha yang sudah dijalankan pemerintah dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan bumi. Contohnya, Presiden Joko Widodo telah menargetkan 30 pusat persemaian rumpin dalam 3 tahun ke depan.

Kemudian, menargetkan 600 ribu lahan mangrove pada 2024, serta menargetkan net zero atau netralitas karbon di tahun 2060.

Hal tersebut kata dia, merupakan komitmen yang sangat serius dari Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim.

"Tapi tidak bisa berhenti di situ saja. Permasalahan lingkungan dan pemanasan global mengingatkan kita akan pentingnya aksi kolektif oleh semua pihak di manapun mereka berada, dan aksi itu perlu dimulai dari tingkat lokal yang jika dilakukan bersama-sama dan berkesinambungan akan berdampak secara global," lanjutnya.

Kata dia, melalui Presidensi G20, Indonesia mengundang para pemuda cerdas dari seluruh dunia untuk ikut mengambil langkah nyata. Caranya, memastikan keberlangsungan dan kelayakan hidup bumi melalui forum Youth20 atau Y20.

"Melalui forum ini Indonesia berkomitmen mengajak generasi muda untuk menjadi bagian dalam menjaga bumi. Dan hal ini bisa kita lihat dari salah satu isu prioritas KTT Y20 Indonesia 2022 yaitu planet yang layak huni dan berkelanjutan. Isu yang sejalan dengan tema hari lingkungan hidup, only one earth," ujarnya.

Baca juga: Pakar Dorong Revisi UU tentang Pengelolaan Sampah, Alasannya?

Dalam forum Y20, akan dibahas enam langkah untuk menjaga bumi. Pertama, mengurangi konsumsi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Kedua, menerapkan prinsip reduce, reuse dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, berpartisipasi dalam menanam pohon secara masif dan melaporkan aksi pembalakan liar atau deforestasi. Keempat, mendukung transisi energi dan penggunaan sumber energi bersih dan terbarukan seperti bioenergi, mikrohidro, energi surya dan panas bumi.

Kelima, menyuarakan dorongan bagi sektor publik dan swasta untuk beralih menuju praktik rantai pasok yang berkelanjutan.

"Dan yang terakhir yang keenam melakukan kreasi dan inovasi teknologi yang relevan untuk menggali upaya pengurangan emisi melalui dukungan sosial finansial dan edukasi," ujarnya.

Editor: Wahyu S.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Most Popular / Trending