Bagikan:

Hari Anak Internasional dan Ancaman Kesehatan Balita

"Yang berkaitan dengan layanan dasar yang dapat diakses oleh anak ini harus tetap selalu dijaga dan dihormati,"

NASIONAL

Kamis, 02 Jun 2022 08:07 WIB

Angka Stunting

Ilustrasi: Petugas mendata balita untuk mendapatkan makanan tambahan dan vitamin di Taman GOR Palu di Palu, Sulteng, Rabu (25/2/2022). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta-  Organisasi pemerhati anak  Save The Children mendorong seluruh pihak untuk terus memberikan perhatian lebih terhadap ancaman-ancaman kesehatan pada balita dalam peringatan Hari Anak Internasional, yang jatuh pada 1 Juni 2022. Selain itu  Manajer Media Save the Children Indonesia, Dewi Sri Sumanah, meminta perhatian pada hal-hal trauma serta diskriminasi yang dialami oleh anak-anak dari kelompok minoritas agama di Indonesia.  

"Terdapat setidaknya ada tiga isu terkait dengan ancaman kesehatan pada anak. Yang pertama ancaman "Zero Dose" atau balita yang tidak melakukan atau terlewat imunisasi dasar, lalu juga ada pelanggaran kode etik internasional pemasaran produk pengganti ASI serta stunting. Hal lainnya juga yang kami soroti, tentang pengalaman trauma dan juga diskriminasi yang dirasakan oleh anak-anak dari kelompok minoritas agama," ujar Dewi saat dihubungi KBR, Rabu (1/6/2022).

Dewi mengatakan,  merekomendasikan kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dengan mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi dasar lengkap akibat dari COVID-19 untuk mengatasi ancaman  Zero Dose atau anak yang tak mendapat imunisasi dasar.

Baca juga:

- Jokowi Sebut Pendampingan Calon Pengantin Bisa Cegah Stunting

- 1.367 Anak Mengalami Stunting di Semarang


Dia menambahkan, khusus diskriminasi terhadap kelompok minoritas dan rentan anak yang masih terjadi selama pandemi  merekomendasikan peninjauan ulang dan amandemen peraturan tingkat nasional, yang bertentangan dengan semangat kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama.

"Terutama yang berkaitan dengan layanan dasar yang dapat diakses oleh anak ini harus tetap selalu dijaga dan dihormati, agar anak-anak terus dapat menjalankan agama serta kepercayaannya yang dianut," pungkasnya.

Stunting

Pemerintah terus berupaya mewujudkan target penurunan angka prevalensi stunting hingga 14 persen pada 2024. Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, pada 2022 ini angka prevalensi stunting harus diturunkan 3 persen dari angka terkini yang masih 24,4 persen.

Caranya, menurut Ma'ruf, melalui program intervensi yang tepat sasaran, sasaran yang terintegrasi, pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), serta penguatan implementasi hingga tingkat rumah tangga melalui Posyandu.

"Dan ini perlu ada koordinasi, konvergensi antar semua kelembagaan. Termasuk juga pengaturan pendanaannya dari berbagai kementerian dan lembaga. Dan dari pertemuan-pertemuan ini kita harapkan ada percepatan-percepatan. Karena intervensi yang dilakukan berbagai lembaga itu bisa efektif dan bisa tepat sasaran seperti yang kita lakukan," ujar Wakil Presiden Ma'ruf Amin usai Rapat Koordinasi TPPS Pusat di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (11/05/2022).


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?