Bagikan:

Harga Bahan Pokok Melambung, Pemerintah Siap Beri Subsidi

Pak Presiden mengatakan, jangan sampai kenaikan beberapa kebutuhan pokok masyarakat seperti BBM, pangan, dan seterusnya itu ditanggung langsung oleh masyarakat.

NASIONAL

Kamis, 02 Jun 2022 19:17 WIB

Harga Bahan Pokok Melambung, Pemerintah Siap Beri Subsidi

Aktivitas pedagang di Pasar Lambaro, Aceh. (Antara-Ampelsa)

KBR, Jakarta - Pemerintah menyatakan siap menyediakan program subsidi kebutuhan bahan pokok yang harganya kian melambung di pasaran.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno mengatakan, saat ini kementerian atau lembaga terus mengikuti skenario Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN dan rencana kerja pemerintah, yang diterbitkan oleh Menteri PPN dan Menteri Keuangan.

Itu disampaikan Pratikno menyikapi tingginya harga kebutuhan pokok saat rapat kerja di Komisi Bidang Pemerintahan DPR, Kamis (2/6/2022).

"Memang yang disampaikan bapak wakil ketua (Komisi II) itu benar, bahwa kita harus mengeluarkan anggaran subsidi yang sangat besar sehubungan dengan harga komoditas. Pak Presiden mengatakan, jangan sampai kenaikan beberapa kebutuhan pokok masyarakat seperti BBM, pangan, dan seterusnya itu ditanggung langsung oleh masyarakat. Maka dari itu, pemerintah menjadi bantalan untuk menghadapi fluktuasi ekonomi global," ujar Pratikno dalam Rapat Kerja di Komisi Bidang Pemerintahan DPR, Kamis (2/6/2022).

Baca juga: Subsidi Minyak Goreng Curah Seharusnya Tetap Dilanjutkan

Pratikno mengklaim, pemerintah terus berusaha menstabilkan harga kebutuhan bahan pokok di masyarakat.

Di sisi lain, Pemerintah juga bersyukur lantaran di saat ekonomi bergolak, beberapa komoditas ekspor memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kemampuan fiskal negara.

"Jadi ada belanja yang meningkat, tetapi ada penerimaan yang meningkat karena komoditas kita yang harganya tinggi dan pajaknya meningkat itu yang membantu pemerintah untuk menyediakan bantalan kenaikan harga agar tidak langsung berdampak kepada masyarakat," tuturnya.

Pada awal Juni, sejumlah harga bahan pokok mengalami kenaikan. Salah satunya yang tertinggi adalah cabai merah.

Berdasarkan pemantauan di Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga cabai merah keriting yang semula Rp39.300 pada 13 Mei 2022, kini menjadi Rp 51.200 per kilogramnya. Sementara harga cabai rawit merah melambung hingga Rp61.400 per kilogramnya.

Kenaikan kebutuhan pokok terpantau di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Harga Komoditas Hortikultura Melonjak

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengungkap fenomena La Nina turut mendongkrak harga komoditas pangan hortikultura di tingkat pedagang. Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai dan bawang-bawangan ini belum melandai sejak momen IdulFitri lalu. Akibat kenaikan harga pangan itu, terjadi penurunan daya beli oleh pedagang maupun pembeli.

Baca juga: INDEF Serukan Jaga Daya Beli Masyarakat

“Bawang itu per hari ini Rp51.000 per kilogram sampai Rp52.000. Bulan lalu masih Rp35.000 sampai Rp40.000. Artinya ada kenaikan kurang lebih Rp10.000 sampai Rp120.000 dalam kurun waktu yang singkat. Belum cabai-cabaian hari ini kenaikan harganya fantastis Rp2.000 sampai Rp3.000. Per hari ini saja naik Rp1.500,” ucap Abdullah kepada KBR, Kamis, (2/6/2022).

Abdullah Mansuri mendorong pemerintah memastikan stok pangan aman, sehingga tak memicu tren kenaikan harga yang berkepanjangan.

Dia juga mendorong adanya transparansi data pangan terkait jumlah produksi, letak produksi, asumsi permintaan, hingga distribusinya.

DPR Beri Peringatan

Komisi yang membidangi Pertanian di DPR meminta pemerintah segera menyusun strategi dan kebijakan menghadapi gejolak permasalahan pangan. Menurut Ketua Komisi bidang Pertanian Sudin, salah satu faktor yang mesti diantisipasi yakni dampak perubahan iklim pada ketersediaan pangan di tanah air.

Baca juga: Jokowi Minta Penegak Hukum Terus Selidiki Mafia Minyak Goreng

"Beberapa tantangan yang harus diperhatikan di antaranya perubahan iklim dan kenaikan suhu dunia yang berdampak pada kesediaan pangan dalam negeri. Berbagai studi mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat rentan dalam perubahan iklim dan berpotensi menjadi salah satu negara yang paling terdampak," kata Sudin dalam Rapat Kerja dengan Mentan, Kamis (2/6/2022).

Sudin menambahkan, risiko yang paling nyata adalah adanya kelangkaan air bersih. Di saat yang bersamaan, Indonesia juga berpotensi dilanda bencana banjir dan kekeringan parah. Belum lagi kata Sudin, adanya risiko muncul berbagai hama penyakit pada tanaman maupun hewan ternak.

Dia menyarankan pemerintah untuk memperbaiki ekosistem lahan yang rusak.

"Oleh karena itu Menteri Pertanian dalam menyusun kebijakan APBN 2023 harus memperhatikan aspek perubahan iklim tersebut dan lebih berpihak pada pelaku usaha pertanian nasional, terutama petani kecil. Selain itu kegiatan utama dan strategis harus dirancang terukur bersifat massal serta dapat dilaksanakan oleh petani," katanya.

Editor: Wahyu S.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ikhtiar Sorgum untuk Substitusi Gandum

Most Popular / Trending