Bagikan:

BMKG Ingatkan Fenomena La Nina Rugikan Petani

"Biasanya tanaman yang sifatnya hortikultura, yang membutuhkan kondisi kering ketika misalkan dia mau dipanen,"

NASIONAL

Kamis, 02 Jun 2022 15:01 WIB

Author

Muthia Kusuma

Persiapan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di  Lanud SMH Palembang, Sumsel, Selasa (24/5/22)

Ilustrasi: Persiapan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Lanud SMH Palembang, Sumsel, Selasa (24/5/22).(Antara/Nova Wahyudi)

KBR, Jakarta- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap fenomena La Nina akan berlanjut pada semester kedua tahun ini. Fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun ini berdampak pada mundurnya musim kemarau di Indonesia. 

Kepala Pusat Informasi Iklim Terapan BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, tingginya curah hujan akibat fenomena La Nina itu akan berdampak pada komoditas pangan.

“Tapi biasanya tanaman yang sifatnya hortikultura, yang membutuhkan kondisi kering ketika misalkan dia mau dipanen, seperti tembakau itu barangkali kurang menguntungkan,” ucap Sena saat dihubungi KBR, Kamis  (2/6/2022).

Ardhasena menambahkan, pergantian ke musim kemarau akan diawali pada wilayah-wilayah pesisir. Semisal di Jawa Tengah sebagai salah satu sentra tanaman bawang, ia menyebut daerah-daerah yang ditanami tanaman hortikultura baru akan mengalami kemarau pada Juni ini. 

Baca juga:

- BMKG: La Nina Bertahan Hingga Pertengahan 2022, Puncak Musim Kemarau Agustus

- BMKG: Ancaman Cuaca Ekstrem Terjadi Hingga Tahun Depan

Kata dia, BMKG merekomendasikan agar pemerintah daerah dan dinas pertanian terkait harus mengantisipasi  fenomena La Nina   yang bisa mengakibatkan kerugian karena gagal panen.

Kondisi tingginya curah hujan ini juga harus dimanfaatkan dengan pengelolaan sumber daya air untuk mengirigasi sawah. Karenanya, ia berharap agar curah hujan yang tinggi itu tak langsung mengalir ke laut.

  

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

RAPBN 2023, Penanganan Pandemi Tak Lagi Jadi Prioritas?

Most Popular / Trending