covid-19

PMI Manufaktur Indonesia Mei Catat Rekor Tinggi, Berapa?

Peningkatan PMI Manufaktur menjadi salah satu sinyal pemulihan ekonomi nasional.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 03 Jun 2021 08:45 WIB

PMI Manufaktur Indonesia Mei Catat Rekor Tinggi, Berapa?

Ilustrasi industri manufaktur di Jawa Barat. Foto: disperindag.jabarprov.go.id

KBR, Jakarta- Purchasing Managers Index (PMI) atau indikator perekonomian di bidang Manufaktur Indonesia pada Mei 2021 mencapai rekor tertinggi tahun ini. 

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan hal ini menjadi gambaran dari kenaikan output, permintaan baru, dan pembelian, serta ketenagakerjaan, setelah 14 bulan terkontraksi.

"PMI Manufaktur Indonesia tercatat pada angka 55,3 di bulan Mei 2021 yang menunjukan terjadinya ekspansi selama 7 bulan berturut-turut. Angka tersebut meningkat dari rekor sebelumnya pada 54,6 di April 2021 dan merupakan rekor survei tertinggi dalam tiga bulan berturut-turut," ujar Febrio dalam keterangan tertulis, Rabu, (02/06/21).

Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan meningkatkan PMI Manufaktur menjadi salah satu sinyal pemulihan ekonomi nasional.

"Optimisme bahwa produksi akan terus menguat terlihat semakin solid di dalam negeri, didorong harapan perbaikan ekonomi karena situasi pandemi Covid-19 domestik," katanya.

Kondisi Global

Sementara itu, PMI manufaktur global juga tumbuh menguat ke level 56,0 pada Mei 2021, atau tertinggi sejak April 2010. Pertumbuhan itu terjadi karena didorong pertumbuhan solid di sisi permintaan baru, permintaan ekspor baru, dan produksi.

"Eropa, Inggris, dan AS mencatat rekor PMI Manufaktur sekaligus menjadi kontributor utama kinerja manufaktur global yang kuat pada bulan Mei. Tiongkok, Jepang, dan India masih berada di zona ekspansi. Namun, aktivitas manufaktur India turun tajam akibat lonjakan kasus Covid- 19," jelasnya.

Tetapi kondisi PMI manufaktur untuk negara di kawasan ASEAN masih bervariasi. Aktivitas manufaktur di Malaysia dan Vietnam meneruskan tren ekspansif. Sedangkan Filipina dan Thailand berada di zona kontraksi akibat pengetatan restriksi selama pandemi Covid-19, yang menyebabkan gangguan rantai pasok.

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10