Mobil Listrik, Tambang Nikel dan Kerusakan Lingkungan di Sulawesi

"Ini sebenarnya ironi. Ketika kita berusaha menurunkan emisi dari industri fossil fuel. Tapi di sisi lain kemudian yang dianggap sebagai alternatif dalam tanda kutip, itu juga tidak kalah merusaknya."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 23 Jun 2021 23:31 WIB

Author

Sadida Hafsyah

Mobil Listrik, Tambang Nikel dan Kerusakan Lingkungan di Sulawesi

Aktivitas pertambangan nikel PT Tiran Mineral di Kecamatan Lasolo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Jumat (11/6/2021). (Foto: ANTARA/Jojon)

KBR, Jakarta - Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah tengah ramai diperbincangkan publik karena adanya aktivitas pertambangan di sana. Bukan karena hal yang positif, pertambangan nikel di kedua provinsi tersebut justru menimbulkan kerusakan lingkungan.

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi yang kondisi lingkungannya terganggu karena aktivitas tambang. Di kabupaten Konawe Utara, seorang Nelayan bernama Mustafa, menceritakan dampak adanya pertambangan nikel di wilayahnya.

“Pengaruhnya juga, terumbu karang tertutup (lumpur). Ikan pada lari ke luar. Tiap tahun ada perbedaan memang. Bukan lagi keruh, tapi sudah cokelat airnya. Ikan itu banyak yang lari ke luar, ke tempat yang tidak keruh,” ujar Mustafa dilansir SCTV Kendari (16/06/21).

Di kecamatan Lasolo, kabupaten Konawe Utara, Mustafa mengatakan aktivitas tambang nikel membuat air laut tercemar lumpur, sehingga mengurangi jumlah tangkapan ikan. Banyak nelayan terpaksa berpindah ke tempat yang lebih jauh untuk menambak ikan.

Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, Saharuddin mengatakan, bencana lingkungan kerap terjadi karena banyaknya aktivitas pertambangan di wilayah ini.

“Dampak industri pertambangan di Konawe Utara, ini sudah menjadi hal yang menjadi pembicaran publik di Sulawesi Tenggara. Soal banjir bandang kemudian banjir besar yang menimbulkan kerugian yang sangat besar. Waktu banjirnya cukup panjang,” jelas Saharuddin dalam webinar Walhi, Rabu (23/6/2021).

Bencana banjir terjadi sebagai dampak deforestasi dari masifnya aktivitas tambang nikel.

“Banyak aktivitas pertambangan yang punya dampak sangat besar. Secara umum meningkatkan laju deforestasi di wilayah-wilayah hutan Sulawesi Tenggara. Kalau di Sulawesi Tenggara ini ada istilah hutan lindung tak bervegetasi. Karena memang hutan secara hukum. Tapi dari kami yang banyak mengetahui urusan pertambangan di sana, sesungguhnya yang dikerjakan memang yang kita dapatkan hanya kerusakannya,” tuturnya.

Saharuddin menyebut setidaknya ada 54 perusahaan pemegang izin usaha pertambangan di Konawe Utara, yang beroperasi menambang nikel sebagai sumber bahan baku industri.

Sulawesi Tenggara, memang sudah sejak lama menjadi wilayah operasi pertambangan nikel di Indonesia.

Tak hanya Konawe Utara, di kecamatan lain yaitu Kolaka, juga terdapat banyak pelaku usaha tambang nikel yang sudah lama beroperasi, bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Kerusakan lingkungan serupa juga terjadi di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, akibat pertambangan nikel.

Ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh peneliti Walhi Sulawesi Tengah, Khaerudin.

“Dari pengamatan di lapangan, hampir seluruh wilayah pesisir Kecamatan Bungku Timur, Bahodopi, dan Bungku Pesisir telah tercemar. Limbah sisa pertambangan terbawa air pada musim hujan hingga laut menjadi berubah warna kecokelatan dan keruh. Sisa galian ore kemudian mengendap menjadi lumpur di dasar laut dan mencemari ekosistem mangrove di wilayah pesisir dan ekosistem laut di tiga kecamatan itu. Bahkan limbah tersebut terbawa arus sampai ke wilayah pulau-pulau kecil di Kecamatan Bungku Selatan,” kata Khaerudin, Rabu (23/06/21).

Baterai mobil

Pertambangan nikel saat ini berkembang pesat di beberapa wilayah Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan industri baterai di dunia. 

Indonesia saat ini disebut-sebut memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang 2019 lalu Indonesia menjadi produsen bijih nikel terbesar di dunia.

Produksi bijih nikel dunia mencapai 2,67 juta ton, dimana Indonesi menjadi produsen terbesar, dengan produksi nikel sebesar 800 ribu ton. Wilayah yang memiliki potensi nikel terbesar antara lain Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Direktur Walhi Nasional, Nur Hidayati menjelaskan sebetulnya ada usaha positif yang didorong berbagai pihak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim. Yaitu dengan menggantikan transportasi berbahan bakar fosil menjadi transportasi tenaga listrik.

Sayangnya, kegiatan ini tidak dilakukan dengan berkelanjutan. Banyak pertambangan nikel menyebabkan kerusakan lingkungan yang besar.

“Di pulau Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara itu merupakan salah satu wilayah yang kaya dengan sumber bahan baku bagi pembuatan baterai mobil listrik. Ini sebenarnya adalah satu ironi. Ketika kita berusaha menurunkan emisi dari industri fossil fuel. Tapi di sisi lain kemudian yang dianggap sebagai alternatif dalam tanda kutip, itu juga tidak kalah merusaknya,” jelasnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Lambannya Pencairan Bansos di masa PPKM Darurat

Kabar Baru Jam 8

Platform Para Pekerja untuk Saling Berbagi

Kabar Baru Jam 10