Bagirata, Solidaritas bagi Pekerja Terdampak Pandemi

Mekanisme galang dana dan distribusinya didesain secara transparan

Tangkapan layar akun Instagram Bagirata

Senin, 07 Juni 2021

Pengantar:

Dampak pandemi Covid-19 dirasakan hampir seluruh pelaku ekonomi. Banyak warga mendadak menjadi pengangguran. Situasi sulit tak lantas membuat orang egois memikirkan perut sendiri. Buktinya, ada platform bagirata yang memfasilitasi donasi bagi warga yang kehilangan mata pencaharian. Jurnalis KBR Valda Kustarini berbincang dengan inisiator platform bagirata dan penerima manfaatnya. Simak kisahnya berikut ini.

- Bagirata, Solidaritas bagi Pekerja Terdampak Pandemi
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jakarta - Pagebluk Covid-19 membuat banyak pekerja terpuruk, salah satunya Stefani-bukan nama sebenarnya.

"Aku tahun lalu (2020) lagi sakit dan ga bisa aktivitas yang terlalu berat jadi memang pilihannya hanya untuk freelance atau part time. Tapi tiba-tiba disetop jadi bingung, aduh mau ngapain ya? Gimana ya cari duit. Kemudian, ya biasalah lihat sosial media lihat perkembangan berita dsb. Kemudian lihat akun Bagirata itu," kata Stefani.

Bagirata adalah platform penyalur dana bantuan untuk pekerja yang terdampak pandemi Covid-19.

Demi bertahan hidup, Stefani coba mendaftar sebagai penerima manfaat Bagirata.

"Waktu itu dia minta ceritakan dulu permasalahan kita apa, mengapa kita butuh bantuan. Diceritakan saja secara jujur dan singkat,” kisahnya.

Stefani juga mencantumkan akun sosial medianya untuk keperluan verifikasi. Tak ada permintaan data pribadi, itu yang membuatnya merasa aman.

“Dia juga minta screenshot e-wallet kita yang mau kita pakai sebagai saluran penerimaan dana kita dan QR Code. Sebetulnya ga susah. Terus ada tahap verifikasi dari mereka. Setelah diverifikasi data kita sudah naik, langsung masuk di websitenya," lanjut Stefani.

Selama menjadi penerima manfaat, Stefani tak mendapat kiriman dana tiap hari. Meski demikian, bantuan itu bisa menopang kebutuhan hariannya.

"Sebetulnya ga besar dan ga banyak. Aku terima sekitar 5 kali, kurang dari 10 lah. Dan itu nominalnya hanya 10 ribu sampai yang berapa ratus ribu," tutur dia.

Bantuan yang tak seberapa itu menolongnya keluar dari situasi krisis

“Terharu sih kalau diingat, pengin nangis kadang-kadang. Aku kan sempet cari-cari freelance, cari-cari terjemahan dsb. Itu laptop tiba-tiba charger-nya rusak. Aku ga ada dana, tiba-tiba masuk dana dari pihak Bagirata yang aku gunakan untuk membeli charger," ungkap Stefani.

Setelah empat bulan menganggur, akhirnya Stefani mendapat pekerjaan pada Juli 2020. Ia meminta Bagirata mencoret namanya dari daftar penerima manfaat. Sebagai bentuk syukur, Stefani ikut menjadi donatur di Bagirata.

"Saya rasa ini inisiatif yang cukup bagus dan cukup menggugah. Makanya saya setelah bukan menjadi penerima pun menjadi donatur. Ketika memang ada kan itu ga perlu nominal besar. Kadang kita menolong orang kan mikirnya 'aduh kalau nominal kecil kayak gini ga berarti apa-apa.' Enggak. Dengan adanya platform ini jadi fasilitator lah bagi orang yang masih punya rejeki untuk dibagikan dan mereka yang sedang sangat membutuhkan,"

Besaran donasi yang telah disalurkan hingga Mei 2021. Hasil tangkapan layar akun IG Bagirata. (FOTO: Valda)

Co-Founder Bagirata Ivy Vania tak menyangka platform hasil inisiasinya masih bertahan hingga saat ini. Bagirata didirikan Ivy bersama tiga rekannya untuk menggalang solidaritas, saling bantu di tengah krisis.

"Kita tuh pengin menekankan ke masyarakat 'ini tuh tanggung jawab kita semua untuk membantu teman-teman yang lain.' Karena kan di pandemi ada yang kehidupanya tiba-tiba berhenti, bingung, nambah pinjaman dari mana-mana. Ada yang sedikit, pelan-pelan survive dari tabungan seadanya. Kita pengin semuanya setara, meskipun pelan-pelan tapi tetap jalan," kata Ivy.

Bagirata punya desain berbeda. Platform ini tidak menampung dana yang masuk, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan antara donatur dan pihak yang akan dibantu. Donatur langsung mengirimkan dana ke dompet elektronik penerima manfaat.

"Misalnya mau masuk sebagai pengirim dana di website, ada 10 cerita dari 10 orang yang berbeda. Nanti dipilih langsung mungkin mau bantu satu orang yang ceritanya tersentuh atau mungkin bisa relate. Nanti di-redirect ke aplikasi Gopay, Dana atau Jenius untuk dikirim ke rekening mereka langsung," ujar dia.

Ivy memastikan Bagirata tak meminta data pribadi, baik dari donatur maupun penerima manfaat. Mekanisme donasi langsung seperti ini, dinilai Ivy, jauh lebih transparan.

"Kalau dari pengirim dana sistemnya anonim. Kita ga bisa track down siapa yang ngirim dana dan kita juga ga ada pe-collect-an data, jadi bebas. Mungkin nanti notifikasinya dapat, misal kirim ke orang nanti orang itu ada notifikasi telah menerima. Biasanya mereka antara nge-chat langsung atau ngasih testimoninya ke kita," lanjut Ivy.

Sejak awal pandemi, ada sekitar 3600 pendaftar di Bagirata. Namun, hanya separuhnya yang lolos verifikasi. Dana yang telah tersalurkan mencapai lebih dari Rp500-an juta.

Jumlah pendaftar penerima manfaat kini makin berkurang. Hal itu justru membuatnya senang, sebab artinya ekonomi mulai pulih dan banyak orang kembali bekerja.

"Kalau masih banyak banget kan kita juga agak kewalahan. Kadang kita bingung gimana kita bisa bantu semua orang dengan effort seadanya. Karena kan kita ga bisa terjun langsung kita cuma bisa kontrol di belakangnya aja. Kalau tahun kemarin kencang banget, sebulan bisa berapa puluh juta, lebih steady dan pelan-pelan juga," pungkas Ivy.

Editor: Ninik Yuniati