covid-19

Alih Fungsi Lahan Ancam Hutan Sagu Papua

"Alih fungsi lahannya itu yang kita sayangkan. [Daerah di Papua kini] yang punya potensi sagu sebenarnya [tersisa] Asmat, terus Mappi, terus Mimika, yang luasan luasannya besar"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 15 Jun 2021 13:01 WIB

Alih Fungsi Lahan Ancam Hutan Sagu Papua

ilustrasi alih fungsi hutan dan lahan. (Foto: Antara)

KBR, Jayapura - Alih fungsi lahan untuk pembangunan dan investasi, mengancam keberlasungan kawasan hutan sagu di Papua.

Hasil penelitian dan kajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) wilayah Papua menyatakan, potensi kawasan hutan sagu di sana tersisa di tiga daerah.

Menurut Kepala BPTP wilayah Papua, Martina Sri Lestari, kabupaten yang masih memiliki potensi hutan sagu cukup luas, yakni Asmat, Mappi dan Mimika. Sedangkan hutan sagu di wilayah lain semisal Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Merauke terus berkurang.

"Kawasan sagu di Papua inikan banyak yang berkurang. Alih fungsi lahannya itu yang kita sayangkan. (Daerah di Papua kini) yang punya potensi sagu sebenarnya (tersisa) Asmat, terus Mappi, terus Mimika, yang luasan luasannya besar. Sagu itu mendapat perhatian betul dari Pak Presiden. Mungkin (hutan sagu) yang masih produktif itu yang harusnya kita jaga. Kalau hutan produktif terus kita alih fungsikan, sebenarnya kasihan," kata Martina Sri Lestari di Jayapura, Selasa (15/6/2021).

Martina Sri Lestari mengatakan, pemerintah daerah dan pihak terkait, harus memiliki strategi menjaga keberlangsungan hutan sagu di Papua. Sebab, provinsi di paling timur Indonesia itu memiliki berbagai jenis sagu.

"Ada sagu yang khusus dikonsumsi secara umum. Ada sagu yang hanya digunakan untuk upacara adat, ada sagu khusus diberikan kepada kepala suku, dan ada pohon sagu yang berfungsi menjaga ekosistem," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam program food estate Papua, Kementerian Pertanian memprogramkan pengembangan sagu dan padi.

"Pengembangan padi di Merauke dan sagu mungkin di Mimika. Setiap kami ajukan program selalu diminta sagu. Inikan makana lokal sehingga benar benar mendapat perhatian," pungkas Martina Sri Lestari.

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Pasti Menyesal Dateng Belakangan Ya

Yuda Candu

Berkarya Tanpa Narkoba

Kabar Baru Jam 7