Pemerintah dan DPR Sepakati Asumsi Makro 2021, Apindo: Realistis Saja

"Daripada tinggi-tinggi tidak tercapai, kan tidak bagus juga,"

BERITA | NASIONAL

Rabu, 24 Jun 2020 12:22 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Pemerintah dan DPR Sepakati Asumsi Makro 2021, Apindo: Realistis Saja

Ilustrasi

KBR, Jakarta-    Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah lebih realistis dalam menentukan besaran asumsi dasar ekonomi makro dan target pembangunan 2021. Pemerintah sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 4,5 persen-5,5 persen pada tahun depan.

Ketua Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono menilai angka itu terlalu tinggi dan tidak realistis. Sebab roda perekonomian saat ini masih susah untuk bergerak akibat pandemi Covid-19.

"Sebenarnya kalau kami  sih inginnya pemerintah   konsisten. Kalau dia menargetkan tinggi semacam itu, terus upayanya apa untuk mendorong kita mencapai itu? Kalau upayanya tidak clear seperti sekarang, berbagai stimulus itu kan realisasinya masih sangat dipertanyakan. Kalau tidak ada dukungan yang jelas, ya bagaimana cara mencapai itu? Itu kan tentu menjadi pertanyaan kita," kata Sutrisno saat dihubungi KBR, Selasa (23/6/2020).

Ketua Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono menambahkan, Apindo belum membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi, namun ia memperkirakan angka versi Apindo akan di bawah versi pemerintah.  

Kondisi itu juga berpotensi diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat dan menurunnya produksi bahan pangan. Ia khawatir jika ini terjadi, Indonesia bisa mengalami krisis kelaparan.

"Itu semuanya harus dalam kondisi realistis saja. Daripada tinggi-tinggi tidak tercapai, kan tidak bagus juga," ujarnya.

Untuk itu, ia menyarankan pemerintah fokus untuk meningkatkan daya beli masyarakat agar roda perekonomian merangkak naik. Di sisi lain, pemerintah juga harus menjamin masyarakat aman beraktivitas dan bekerja di masa pandemi ini.

"Oleh karena itu memang bagaimanapun juga kan upaya untuk mendorong agar masyarakat punya pendapatan itu penting. Itu yang harus diprioritaskan dulu. Jadi kalau kita punya anggaran, punya dana, difokuskan dulu di dalam upaya untuk meningkatkan daya beli," tambahnya. 

Analisis Indef

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai  asumsi makro 2021  terlalu optimistis. Menurutnya, pemulihan ekonomi akan masih berjalan lambat hingga tahun depan, sehingga proyeksi 4,5 hingga 5,5 persen pertumbuhan ekonomi dianggap terlalu tinggi. 

Kata Tauhid, asumsi makro yang telah disepakati pemerintah dan DPR kurang realistis, mengingat banyaknya kelompok masyarakat bawah yang terkena imbas lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

"Saya tidak begitu yakin, memang kalau saya lihat ya kalau katakanlah pemerintah punya asumsi pertumbuhannya 4,5 sampai 5,5 persen. Menurut saya terlalu optimistis lah, ada beberapa hal yang menurut saya cukup krusial. Yang pertama adalah, pemulihan ekonomi kita tidak cepat. Bahwa daya beli kita tidak mungkin cepat, bahwa beberapa bulan ini bisa muncul. Kalau misalnya dulu krisis 2008 dan sebagainya, itu kan memang kelompok masyarakat bawah itu kan terkenanya sedikit ya," ujar Tauhid Ahmad kepada KBR, Selasa (23/6/2020). 

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, saat ini Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi motor penggerak ekonomi, terkena dampaknya. Karenanya, ekonomi disinyalir belum akan pulih dalam waktu yang singkat. Tauhid menyebut, kontribusi UMKM dalam GDP Indonesia sangat tinggi, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

"Sekarang ini UMKM dan sebagainya itu kena semua, dan itu butuh waktu relatif lama. Menurut saya ini yang membuat ekonomi kita tidak langsung pulih,  karena UMKM itu hampir 60 persen GDP kita dengan 60 juta rumah tangga bayangkan dengan usaha menengah besar yang relatif lebih kecil, itu yang menjadi faktor pertama," ujarnya.

Tauhid menjelaskan, situasi perdagangan di 2021 diyakini belum akan membaik. Pasar-pasar internasional masih akan berjalan lambat tahun depan, yang berimbas terhadap pembatasan global. Hal ini, kata Tauhid, relatif tidak akan membantu perekonomian Tanah Air, meskipun terdapat surplus di dalam negeri.

 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Bagaimana Ketersediaan Tenaga Medis untuk Penanganan Covid-19

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 15