Peneliti: Tol Trans Jawa Bisa Dorong Laju Urbanisasi

Menurut hasil studi, infrastruktur tol bisa melebarkan kesenjangan ekonomi antara kota dan desa, mendorong deagrarianisasi, sekaligus urbanisasi.

BERITA , NASIONAL , NUSANTARA

Senin, 10 Jun 2019 12:11 WIB

Author

Adi Ahdiat

Peneliti: Tol Trans Jawa Bisa Dorong Laju Urbanisasi

Kepadatan arus balik mudik di Tol Trans Jawa Semarang - Solo KM 443, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/6/2019). (Foto: ANTARA/Aji Styawan/foc)

Selama masa mudik lebaran 2019, Tol Trans Jawa banyak dipuji. Tol baru ini dinilai cukup efektif mengurai kemacetan dan membuat banyak pemudik merasa nyaman.

Tapi, mengurai kemacetan mudik hanya satu dampak "kecil" saja. Menurut Anton Novenanto, peneliti dari Universitas Brawijaya, dalam jangka panjang keberadaaan Tol Trans Jawa bisa mendorong perubahan sosial-ekonomi di Pulau Jawa.

Hanya saja, perubahan itu tidak selalu “sehat”. Studi Anton Novenanto menyebut, Tol Trans Jawa bisa saja melebarkan kesenjangan ekonomi antara kota dan desa, mendorong deagrarianisasi, sekaligus urbanisasi. Berikut paparan singkatnya.


Jalan Tol Tidak Menjamin Pertumbuhan Ekonomi Desa

Dalam makalah berjudul Transjawa, Pertumbuhan Ekonomi dan Urbanisasi (Bhumi Jurnal Agraria dan Pertahanahan Vol. 4, 2018), Anton Novenanto memaparkan pengaruh pembangunan infrastruktur tol di sejumlah negara.

Dan ternyata, dari studi kasus di Tiongkok dan India, penambahan jalan tol tidak berkontribusi besar bagi peningkatan ekonomi wilayah sana.

Anton (2018) menyebut, "Pembangunan infrastruktur transportasi memang memudahkan perpindahan manusia dan barang. Namun, itu tidak berdampak langsung pada perpindahan modal dari wilayah pusat ke pinggiran," jelasnya.

Menurut data yang dihimpun Anton (2018), infrastruktur transportasi di Tiongkok lebih banyak memberi dampak ekonomi untuk kota daripada pedesaan. Kesenjangan antara wilayah pusat dan pinggiran pun cenderung kian melebar.

Hal serupa juga terjadi di India. Alih-alih mengembangkan ekonomi pedesaan, pembangunan jalan malah menjadi salah satu faktor vital yang mendorong laju urbanisasi.


Tol Trans Jawa Mendorong Deagrarianisasi

Berdasar studi kasus Tiongkok dan India, Anton (2018) menyebut, “Betapa sulitnya mencari hubungan langsung antara keberadaan infrastruktur transportasi dan pertumbuhan ekonomi, berkaca dari pengalaman di negara lain dan di masa lalu,” tulisnya.

Begitupun yang terjadi di Indonesia. Menurut Anton (2018), alih-alih menumbuhkan ekonomi desa, pembangunan Tol Trans Jawa justru mendorong deagrarianisasi, atau peralihan ekonomi masyarakat dari pertanian ke sektor non-pertanian.

Deagrarianisasi itu bahkan dilaporkan sudah terjadi sejak Tol Trans Jawa belum rampung.

Anton (2018) menyebut, pembangunan ruas tol Gempol - Pandaan yang dimulai sejak Mei 2006 telah menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif di Pasuruan, Jawa Timur, seluas 9,8 hektare atau 70,72 persen dari total lahan yang dibutuhkan.

Ia juga menyebut, “Proyek itu (Tol Trans Jawa) telah mengorbankan tanah sawah produktif di Ngawi, yang setiap tahun bisa tiga kali panen. Tidak hanya lahan sawah produktif yang hilang, tapi juga saluran irigasi untuk mengairi sawah-sawah juga harus dikorbankan,” tulisnya.

“Dari pengalaman yang sudah disampaikan, kita dapat melihat bagaimana proses deagrarianisasi sedang terjadi di beberapa lokasi pembangunan jalan tol dan skalanya masif,” tambah Anton.


Tol Trans Jawa Mendorong Urbanisasi

Di samping deagrarianisasi, keberadaan jalan Tol Trans Jawa juga diperkirakan bisa mendorong laju urbanisasi, seperti yang sudah terjadi di India.

Anton (2018) menyebut, “Percepatan pada laju urbanisasi terjadi beriringan dengan membaiknya aksesibilitas dan kualitas infrastruktur transportasi,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, kini arti urbanisasi bukan sekedar perpindahan manusia dari desa kota, tapi juga perpindahan tenaga kerja dari sektor agraris ke sektor-sektor jasa.

Untuk meredam efek negatif dari urbanisasi, Anton (2018) pun mengusulkan agar pembangunan infrastruktur tol diiringi sejumlah kebijakan lain, yakni:

  1. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
  2. Pengembangan lapangan kerja, baik dari segi jumlah maupun keragamannya.
  3. Penyediaan layanan infrastruktur lain seperti air bersih, pendidikan, rumah sakit, telekomunikasi, pengelolaan limbah, sumber daya energi, dan sebagainya.
  4. Mobilitas modal dari wilayah-wilayah pusat ke pinggiran. Memicu investasi, penciptaan dan pengembangan usaha mikro-menengah, dan mengintegrasikannya dengan industri makro.
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Bagaimana Pengaturan Sistem Zonasi? Apa Manfaatnya?

Kabar Baru Jam 14

Zonasi PPDB Masih Jadi Keluhan

Kabar Baru Jam 13