AESI: Kita Tidak Bisa Selamanya Bergantung Pada Energi Fosil

"Saya berharap makin banyak pelaku usaha yang nyata berkomitmen mengadopsi PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) atap untuk masa depan Indonesia yang lebih baik," ucap Ketua AESI.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 20 Jun 2019 16:15 WIB

Author

Adi Ahdiat

AESI: Kita Tidak Bisa Selamanya Bergantung Pada Energi Fosil

Ilustrasi: Tambang batu bara. Produksi energi fosil tidak berkelanjutan, merusak dan mencemari lingkungan. (Foto: Wikimedia Commons/TripodStories)

KBR, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Andhika Prastawa, mendorong masyarakat dan pengusaha Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan. Pasalnya, ia mengingatkan, energi fosil akan habis di masa depan.

“Penyediaan listrik memerlukan eksplorasi energi lain. Tidak bisa selamanya bergantung pada energi fosil seperti batu bara, yang lambat laun akan habis pada masanya,” tutur Andhika dalam acara diskusi energi surya di Jakarta bertajuk Atapku Sudah, Atapmu?, dikutip dari Antara, Kamis (20/6/2019).

Andhika mengingatkan, penggunaan energi fosil terus-menerus akan memperbesar masalah lingkungan mulai dari polusi, gas rumah kaca, hingga berujung pada pemanasan global.

“Sehingga perlu alternatif energi lain, yang salah satunya adalah tenaga surya,” jelas Andhika.


Baca Juga: Warga Jabodetabek Mau Pasang Listrik Tenaga Surya, Kalau Ada Kebijakannya


Energi Surya Paling Sederhana

Andhika menilai, pemanfaatan energi surya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca, bersifat terbarukan serta paling mudah dimanfaatkan.

"Energi surya yang paling sederhana pemanfaatannya, yang selalu terdapat di sekitar kita. Oleh karenanya kita berharap pemanfaatan energi surya ini secara luas," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pemanfaatan energi surya tidak membutuhkan lahan yang luas.

“Lahan tidak menjadi masalah krusial lagi bagi pemasangan panel surya, karena dapat menggunakan atap gedung baik perumahan, pabrik, perusahaan maupun gedung komersial,” jelas Andhika.

"Saya berharap makin banyak pelaku usaha yang nyata berkomitmen mengadopsi PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) atap untuk masa depan Indonesia yang lebih baik," tuturnya.


Pemanfaatan Energi Surya Belum Maksimal

Andhika menjelaskan, potensi energi surya rata-rata di Indonesia mencapai 1.350 kilowatt-hour (kWh) per tahun. Lebih tinggi daripada potensi Eropa, yang hanya sekitar 900 kWh per tahun.

"Jadi, potensi di Indonesia jauh lebih besar dari di Eropa, tetapi sayangnya pemanfaatan (energi surya) di Indonesia jauh tertinggal bahkan oleh negara-negara tetangga," ujar Andhika.

"Pemakaian energi surya di Indonesia di sini tercatat hanya 90 megawatt, sedangkan di Eropa ukurannya sudah ribuan megawatt. Justru yang potensinya sedikit (Eropa) sudah menggunakan energi surya begitu besar, tapi yang potensinya besar (Indonesia) masih menggunakan sedikit," singgungnya lagi.


Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aparat diminta Tingkatan Kualitas Pengamanan Pejabat Negara