Kementan: La Nina Untungkan Petani Hortikultura

"Petani terbantu, tadinya susah menjadi air jadi gampang mencari air," kata Direktur Sayuran di Ditjen Hortikulturan Kementan, Yanuardi.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 09 Jun 2016 11:51 WIB

Author

Wydia Angga

Kementan: La Nina Untungkan Petani Hortikultura

Ilustrasi La Nina, atau fenomena penurunan suhu suhu permukaan laut Samudera Pasifik pada November 2007. (Foto: Jesse Allen/NASA Earth Observatory/Public Domain/Wikimedia)

KBR, Jakarta - Kementerian Pertanian menyatakan stok komoditas sayuran dan holtikultura (tanaman kebun/budidaya) aman di saat Indonesia diprediksi menghadapi La Nina selama tiga bulan ke depan.

La Nina merupakan fenomena penurunan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dibanding wilayah sekitarnya. La Nina biasanya terjadi mengikuti fenomena El Nino (atau musim kemarau berkepanjangan). Fenomena La Nina menyebabkan musim kemarau akan diwarnai banyak hujan atau "kemarau basah" dibandingkan dalam kondisi normal.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Yanuardi menyebut pasokan sayuran dan hortikultura terjamin karena budidaya komoditas itu justru terbantu dengan curah hujan yang akan datang di musim kemarau.

"Kalau terlalu besar (hujan) tentunya bisa menyebabkan banjir, sawah lebih bawah akan terbenam. Mungkin kerugiannya di situ. Kalau kami di hortikultura ini kebanyakan daerahnya di lahan kering, jadi malah naik ke atas ya. Justru itu malah menguntungkan bagi petani hortikultura. Petani terbantu, tadinya susah menjadi air jadi gampang mencari air," kata Yanuardi kepada KBR (8/6/2016)

Selama kurun waktu tiga bulan ke depan, yaitu Juli, Agustus, September diperkirakan fenomena La Nina menguat hingga level sedang.

Otoritas pemantau cuaca BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kemarau basah selama Juli hingga September.

Kepala BMKG Andy Eka Sakya mengatakan fenomena La Nina akan menyebabkan musim kemarau akan mendapat curah hujan di atas normal. BMKG menyebutkan kondisi kemarau basah bakal berdampak positif bagi produksi pertanian.

Itu sebab, BMKG menyarankan petani tidak berhenti menanam, sembari tetap waspada akan munculnya serangan hama penyakit pada kondisi tanah yang lembab.

Sementara itu, Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB Sutopo Purwo Nugroho meminta masyarakat tetap waspada karena kemarau basah berpotensi membawa ancaman bencana seperti banjir, longsor dan angin puting beliung.

BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal di lereng-lereng, perbukitan yang rawan longsor terus waspada, meski datangnya La Nina juga bisa meningkatkan produktifitas pertanian.

Editor: Agus Luqman
 
 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Ratusan WNI ABK Kapal World Dream Tiba di Sebaru