Insiden Natuna, Pemerintah Bentuk Tim Khusus

"Kami akan membuat tim pakar kita berbicara hukum internasional bagaimana enaknya hubungan kita dengan Tiongkok ini tetap baik"

BERITA | NASIONAL

Senin, 20 Jun 2016 20:57 WIB

Author

Ade Irmansyah

Insiden Natuna, Pemerintah Bentuk Tim Khusus

Ilustrasi

KBR, Jakarta- Pemerintah bakal membentuk tim khusus untuk menyelesaikan   peristiwa penembakan kepada nelayan dalam di wilayah Laut Cina Selatan Jumat lalu. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah akan menggandeng ahli hukum internasional Hasyim Djalal.

"Presiden setuju. Kami akan membuat tim pakar kita berbicara hukum internasional bagaimana enaknya hubungan kita dengan Tiongkok ini tetap baik tapi kedaulatan kita tidak terganggu," ujarnya kepada wartawan di Kantor Menkopolhukam, Jakarta, Senin (20/06).

Luhut meminta  permasalahan ini untuk tidak ditanggapi secara berlebihan. Pasalnya kata dia, menjaga hubungan kedua negara lebih penting dan jangan sampai dirusak dengan terjadinya peristiwa tersebut.

"Gak perlu kita tanggapi, kita yang penting cari solusi baik-baik. Kita kan ingin menjalin hubungan baik dengan Tiongkok tanpa mengorbankan sovereignty (kedaulatan) kita," ujarnya.

Luhut  membantah   adanya korban dari pihak nelayan Cina akibat penembakan yang dilakukan oleh TNI angkatan laut. Dia mengaku sudah diberi gambaran terkait peristiwa tersebut. Hanya saja dia enggan menjelaskan lebih terperinci.

"Enggak betul. Semua sesuai aturan," ujarnya.

Sebelumnya, Otoritas Cina menuduh Indonesia menembak  nelayan mereka dan melukai salah satu di antaranya dalam kasus sengketa di wilayah Laut Cina Selatan. Kementerian luar negeri di Beijing, meluncurkan protes keras atas apa yang disebut mereka sebagai pelecehan angkatan laut Indonesia kepada nelayan Cina.

Versi pemerintah Cina beberapa kapal angkatan laut Indonesia menembaki perahu nelayan Cina di wilayah yang disengketakan pada Jumat lalu. Salah satu anggota awak terluka, sedangkan perahu nelayan dan tujuh awak lainnya ditahan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8