Efisiensi Rantai Pasok Daging Sapi, Ini Langkah Mendag

Salah satunya, menurut Menteri Perdagangan Thomas Lembong melalui kebijakan menekan harga pakan. Dengan begitu, kata dia, bisa berdampak pada menurunnya biaya produksi.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 18 Jun 2016 22:40 WIB

Author

Yudi Rachman

Efisiensi Rantai Pasok Daging Sapi, Ini Langkah Mendag

KBR, Jakarta - Kementerian Perdagangan terus mengkaji upaya efisiensi rantai pasok daging sapi. Salah satunya, menurut Menteri Perdagangan Thomas Lembong melalui kebijakan menekan harga pakan. Dengan begitu, kata dia, bisa berdampak pada menurunnya biaya produksi.

"Kami terus mengkaji pemberian stimulus ke peternak sapi, agar harga dagung sapi lokal bisa turun," jelas Menteri Perdagangan Thomas Lembong di Jakarta, Sabtu (18/6/2016).

Ia pun menuturkan, melambungnya harga daging sapi setiap jelang Ramadan dan lebaran salah satunya disebabkan inefisiensi rantai pasok. Thomas Lembong menjelaskan, inefisien sering terjadi dalam rantai pasok tata niaga sapi lokal. Dia mencontohkan, pengangkutan sapi lokal dari daerah ke pusat ekonomi kerap terlambat karena kemacetan. Hal ini menyebabkan biaya transportasi pengiriman menjadi lebih tinggi dan dibebankan dalam harga jual sapi.

"Memang khusus sektor sapi masalahnya adalah inefisiensi. Rantai pasoknya bukan berlapis-lapis meskipun tidak tidak banyak tetapi karena inefisiensi. Sementara analisa saya seperti itu," imbuhnya.

Sehingga, menurutnya, kebijakan menekan harga pakan bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan tingginya harga sapi.


Deregulasi Rantai Pasok

Selain kebijakan menekan harga pakan, Kementerian Perdagangan mengisyaratkan perombakan regulasi mulai dari tahap pengadaan, impor, distribusi hingga pengeceran tata niaga daging sapi.

"Saya kira satu pelajaran dalam beberapa minggu ini kita juga perlu deregulasi di distribusi, importasi,pengeceran dan pengadaan daging sapi. Moga-moga juga di sektor pangan yang lain," tutur Lembong.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengakui, banyaknya peraturan pemerintah di sektor ini membuat pemerintah sulit menentukan kebijakan saat permintaan daging sapi di masyarakat, tinggi. Alhasil, kata dia, langkah pemerintah menstabilkan harga terhambat.

"Semakin banyak kita menerbitkan aturan-aturan, syarat-syarat, semakin sulit kita bergerak. Ahirnya, segala macam sektor sulit bergerak cepat untuk menanggapi atau menanggulangi tingginya permintaan," jelas Menteri Perdagangan Thomas Lembong di Jakarta, Sabtu (18/6/2016).

Ia pun menambahkan, kementeriannya bakal mengusulkan pemangkasan sejumlah regulasi yang dianggap memperumit alur distribusi. Meski ia mengakui, sejumlah aturan disusun untuk melindungi komoditas daging sapi.

"Dengan banyak aturan, beban reguliasi, ya niatnya memang memproteksi. Misalnya dari segi transportasi distribusi, pasokan daging jadi telat. Lalu untuk impor, juga banyak aturan-aturan sehingga lama untuk mengimpor. Padahal kita butuh cepat," ungkapnya.

Kementerian Perdagangan, lanjutnya, masih terus memantau stok dan harga daging sapi dalam sepekan terakhir. Kendati pemerintah telah menggelontorkan daging sapi beku impor dalam jumlah ribuan ton ke pasar melalui BUMN, Bulog dan rekanan BUMN. (ika)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN