Demi Pencernaan, Ahli Gizi Tak Sarankan Buka Puasa Dengan Hidangan Manis

"Sebaiknya diawali dengan air putih hangat, diikuti buah-buahan."

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Selasa, 14 Jun 2016 15:51 WIB

Author

Arie Nugraha

Demi Pencernaan, Ahli Gizi Tak Sarankan Buka Puasa Dengan Hidangan Manis

Ilustrasi penjualan jajanan buka puasa atau takjil. (Foto: ANTARA)

KBR, Bandung - Ahli gizi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat, Asep Ahmad Munawar tidak menyarankan umat Islam berbuka puasa dengan hidangan yang rasanya manis, bersantan atau mengandung gula berlebih.

Hal itu menyoroti kebiasan buka puasa dengan kolak atau menu buka puasa yang memiliki kadar gula dan gizi sangat tinggi.

Menurut Asep, mengkonsumsi gula berlebih pada saat berbuka puasa dapat menganggu sistem pencernaan.

"Sebaiknya diawali dengan air putih hangat, diikuti buah-buahan yang manis, karena zat didalam buah dapat diolah dengan cepat menjadi energi tubuh," kata Asep Ahmad di Bandung, Selasa (14/6/2016).

Asep Ahmad Munawar yang merupakan Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mengatakan, zat pemanis buatan serta berbagai santan dan berbagai kandungan lainnya yang terdapat dalam penganan berbuka puasa dapat memancing perut bekerja keras secara mendadak.

Dampaknya, kata Asep, cairan lambung akan diproduksi secara berlebih dan akan mengakibatkan asam lambung meningkat disertai gangguan pencernaan.

Asep Ahmad mengatakan asupan makanan yang terbaik saat berbuka puasa adalah menyantap buah dan protein agar pencernaan bekerja secara sistemis.

Salah satu kombinasi menu buka puasa yang sehat bagi pencernaan adalah air putih dan kurma atau buah-buahan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Travel Advisory Amerika Jadi Refleksi?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11