Stok ARV di Ambon dan Klaten Kosong, Kemenkes Disarankan Buat Sistem e-Logistik

Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardana mengatakan, Kementerian Kesehatan bisa membuat sistem e-logistik untuk mematau stok obat di berbagai daerah di Indonesia.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 10 Jun 2015 11:10 WIB

Author

Eli Kamilah

Stok ARV di Ambon dan Klaten Kosong, Kemenkes Disarankan Buat Sistem e-Logistik

Ilustrasi

KBR, Jakarta - Pemerintah perlu membuat sistem monitoring yang lebih canggih untuk memantau obat ARV bagi ODHA atau Orang dengan HIV/AIDS. ARV adalah obat yang harus dikonsumsi seumur hidup oleh ODHA guna menekan tingkat HIV dalam tubuh.

Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition, Aditya Wardana mengatakan, Kementerian Kesehatan bisa membuat sistem e-logistik untuk mematau stok obat di berbagai daerah di Indonesia.

"Dengan cepat bisa diseleseikan. Seperti membangun e logistik, kemudian tidak manual lagi. Sehingga kalau tidak ada pelaporan tidak masuk, ada alat yang bisa diterima di Jakarta," kata Aditya kepada KBR, Rabu (10/6/2015).

Kata dia, saat ini ada 50 ribuan ODHA yang mengkonsumsi ARV.

"Kami berharap Kemenkes bisa melakukan itu. Jangan sampai seperti pemadam kebakaran, ada laporan baru ditanggulangi," tambahnya.

Aditya menambahkan obat ARV tidak boleh berhenti dikonsumsi oleh ODHA. Selain menyebabkan resistensi, pemerintah juga akan kesulitan mengendalikan epidemi.

Terkait kosongnya obat di Klaten dan Ambon, Aditya mengaku sudah melaporkan hal itu ke Kemenkes, dan obat pun sudah dikirim kemarin.

Sebelumnya,ODHA di Ambon dan Klaten sempat diresahkan dengan putusnya stok obat ARV selama beberapa kali dalam kurun waktu dua bulan ini.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Ramai-ramai Mudik Dini

Ramadan (Masih) dalam Pandemi Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Sejumlah Kendala Vaksinasi Lansia