Komisi Pertahanan DPR Tolak Pembebasan Tapol-Napol Papua

Pasalnya pemerintah belum memiliki roadmap atau gambaran besar terkait penyelesaian sejumlah persoalan di Papua.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 23 Jun 2015 07:22 WIB

Author

Ade Irmansyah

Komisi Pertahanan DPR Tolak Pembebasan Tapol-Napol Papua

Jokowi saat berkampanye di Papua untuk pencalonan dirinya sebagai Presiden. Foto: Antara

KBR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Tantowi Yahya menolak langkah presiden yang memberikan pengampunan kepada tahanan politik di Papua. Pasalnya, pemerintah belum memiliki roadmap atau gambaran besar terkait penyelesaian sejumlah persoalan di Papua.

Ini diperparah dengan tiadanya koordinasi antara lembaga terkait seperti TNI, BIN dan Kementerian Luar negeri dalam menangai berbagai masalah di Papua. Politisi Golkar ini mengingatkan agar Presiden Jokowi tidak salah langkah mengambil keputusan.

“Jawabannya jelas, karena memang tidak ada roadmap karena apa yang dilakukan pemerintah itu hanya bersifat adhoc dan hanya bersifat letupan-letupan. Contoh ketika presiden memberikan pembebasan bagi pers asing ke Papua itu dikait-kaitkan dengan hari pers dunia, jadi diambil momentumnya," ujarnya kepada wartawan di kantor DPR (22/6/2015). 

"Itukan perlu kita ketahui itu presiden dibisikkan oleh siapa itu, masa memberikan sesuatu yang bersifat strategis hanya dikait-kaitkan dengan hari tertentu. Kita khawatir dampaknya akan sangat besar secara politik,” tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membebaskan lima narapidana politik (napol) kasus pembobolan gudang senjata Kodim Wamena yang terjadi 3 April 2003 silam. Jokowi mengatakan ini adalah upaya pemerintah menghapus stigma konflik di Papua. Grasi ini adalah awal dan selanjutnya akan ditindak lanjuti pemberian pengampunan kepada tapol di wilayah lain.

Kelimanya adalah Numbungga Telenggen yang dihukum seumur hidup, Linus Hiluka dihukum 20 tahun, Apotnaholik Lokobal dihukum 20 tahun, Kimanus Wenda dihukum 20 tahun dan Yafrai Murib yang dihukum 20 tahun penjara.


Editor: Damar Fery Ardiyan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8