Jaga Ekosistem Laut, Menko Maritim-FAO Luncurkan Ekspedisi Samudera Hindia

Bersama Badan Pangan Dunia (FAO) PBB Pemerintah inisiasi program ekspedisi samudera hindia dengan berangkatkan 3 kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 25 Jun 2015 21:22 WIB

Author

Stefanno Reinard

Ekspedisi Samudera Hindia. Foto: Antara

Ekspedisi Samudera Hindia. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Demi keberlangsungan ekosistem kelautan, Kementerian Koordinator Kemaritiman bekerja sama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) PBB menginisiasi program ekspedisi Samudera Hindia dengan memberangkatkan 3 kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Jumat (26/6/2015). Menurut Menko Maritim, Indroyono Soesilo, ada 2 kapal riset RI yang akan dikerahkan, serta 3 peneliti muda Indonesia yang ikut dalam ekspedisi selama kurang lebih 20 hari ini. 

"Dalam ekspedisi ini kita akan mengambil 1 rute dari Jakarta ke Mauritius, kemudian juga 3 orang ilmuwan kita akan ikut berpartisipasi," kata Indroyono dalam acara yang bertajuk Reception and Guided Tour of The Research Vessel Dr Fridtjof Nansen di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (25/6/2015). 

Menurut Indroyono, posisi Indonesia yang diapit 2 samudera yaitu Hindia dan Pasifik, menjadikannya negara yang strategis. Namun, kata dia, hingga kini riset-riset mengenai Samudera Hindia masih minim. 

"Data riset dari ekspedisi ini akan membawa keuntungan bagi kita. Seperti nanti kita bisa memprediksi el nino dan la nina, yang mana kedua fenomena itu mempengaruhi jumlah penangkapan ikan," jelas Indroyono. 

Selain itu, Kepala Perwakilan Badan Pangan Dunia (FAO) Indonesia Mark Smulders mengatakan, ekspedisi ini dilakukan untuk mempelajari ekosistem di Samudera Hindia.

"Sumber daya alam laut sudah memberi makan kita sangat baik untuk manusia. Tapi kadang kita lupa pentingnya laut karena tinggal di daratan. Oleh karena itu ekosistem laut perlu dijaga karena ada plankton untuk ikan dan 26 persen carbon dioksida diserap oleh laut, jadi penting untuk menjaga kesehatan laut," jelas Mark.

Berdasarkan data FAO Indonesia, secara spesifik ekspedisi ini akan melakukan kajian hubungan antara fenomena Indian Ocean Gyre yang turut mempengaruhi ekosistem perairan dengan potensi perikanan laut pelagis besar. Kemudian, ekspedisi ini akan mengangkut 16 peneliti kelautan dari 12 negara yaitu Norwegia, Indonesia, Malagasi, Spanyol, Belanda, Kenya, Afrika Selatan, Perancis, India, Australia, Tanzania, dan Seychelles. 

Program ini dilakukan sebagai persiapan Indonesia dalam rangka pencanangan dukungan terhadap program dunia The Second International Ocean Expedition yang akan diluncurkan pada Desember 2015 nanti.  

Editor: Dimas Rizky

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal