covid-19

Harga Daging Meroket, Mendag Ancam Tidak Beri Izin Impor Daging Sapi

Akibat harga daging yang tidak terkendali, Kementerian Perdagangan mengancam tidak memberikan izin impor kepada importir yang tidak bisa menstabilkan harga.

NASIONAL

Jumat, 19 Jun 2015 20:26 WIB

Harga Daging Meroket, Mendag Ancam Tidak Beri Izin Impor Daging Sapi

illustrasi

KBR, Jakarta- Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengancam tidak akan memberikan izin impor daging sapi. Ancaman ditujukan kepada importir yang tidak bisa mengendalikan harga selama Ramadan dan Lebaran. Menurut Gobel, harga daging sapi yang melonjak saat ini diduga karena permainan di tingkat pedagang. Sehingga dia meminta penjelasan kepada importir dan mendesak importir ikut mengendalikan harga di tingkat pedagang.

"Sapi kita ini stoknya lima bulan ada 228 ribu ekor, kebutuhan kita ini 45 ribu ekor per bulan, kok naik harganya. Sebelum puasa ini seperti ada main-main yang mempermainkan, jadi tadi saya panggil ketua asosiasi. Saya pertanyakan presentasi yang diberikan kepada saya seperti apa? Apa yang mau mereka lakukan? Mereka bilang kita jual kepada pedagang, pedagang yang mengatur. Lho, mestinya produsen yang bertanggung jawab sampai ke konsumen karena yang dapat izin impor kan mereka bukan pedagangnya. Kenapa bisa dikendalikan oleh pedagang? Artinya kurang tanggungjawabnya. Makanya saya panggil semua tadi. Saya bilang kalau Anda tidak bisa kendalikan, terpaksa jangan datang minta izin impor ke saya lagi, " tegas Menteri Perdagangan Rahmat Gobel di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (19/6).

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel berencana melakukan operasi pasar bersama Bulog guna menurunkan harga.

Sebelumnya, harga daging sapi di beberapa daerah mengalami kenaikan. Di pekan pertama Ramadhan, harga daging sapi menyentuh angka Rp 150 ribu per kilogram di provinsi Aceh. Sedangkan di Medan dan Banten, harga daging sapi mencapai kisaran Rp 120 ribu per kilogram. 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona