85 Persen Sekolah Dikepung Iklan Rokok

Kesimpulan ini merupakan hasil pemantauan yang dilakukan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) di 5 kota besar di Indonesia.

BERITA | NASIONAL | NASIONAL

Senin, 15 Jun 2015 14:48 WIB

Author

Ninik Yuniati

85 Persen Sekolah Dikepung Iklan Rokok

Ilustrasi Merokok. Foto: Antara

KBR, Jakarta - Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mencatat 85 persen sekolah dikepung oleh iklan dan promosi rokok di lingkungan sekitarnya. Kesimpulan ini merupakan hasil pemantauan yang dilakukan yayasan tersebut dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat di 5 kota besar di Indonesia. Pengurus YPMA, Hendriyani mengatakan, sebagian besar iklan dan promosi rokok ditemukan di tempat penjualan seperti warung atau kios di sekitar sekolah. Selain itu, pada setiap 1 dari 3 sekolah ditemukan iklan rokok di media luar griya (outdoor advertising), seperti billboard dan spanduk.

"Kami menemukan ternyata, iklan di tempat penjualan, jumlahnya lebih banyak lagi daripada iklan luar griya. Ada di temukan di area sekitar 85 persen di sekolah yang kami amati. Karena itu pelarangan untuk memasang iklan rokok tidak cukup bila hanya di luar griya, harus menyeluruh, karena iklan itu di mana-mana," kata Hendriyani dalam paparan hasil pemantauan di sebuah restoran di Jalan Agus Salim, Jakarta, (15/6/2015).

Pengurus Yayasan Pengembangan Media Anak, Hendriyani menambahkan, sejumlah perusahaan rokok besar gencar memasang iklan di sekitar sekolah. Di antaranya, Djarum, Bentoel International Investama, Nojorono Group Kudus, Gudang Garam, dan HM Sampoerna. Kata dia, ini membuktikan perusahaan rokok sengaja menyasar konsumen dari anak dan remaja. 

"Dengan begitu banyak orang yang setiap tahunnya harus "digantikan" bagi industri rokok, mereka kemudian mengetahui betapa pentingnya anak muda itu sebagai perokok pengganti, buat menggantikan yang akan pergi itu. Jadi pada tahun 80an, mereka sudah identifikasi bahwa remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok, karena mayoritas perokok mulai merokok ketika remaja," lanjut Hendriyani.  

Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), Lentera Anak Indonesia, dan Smoke Free Agents melakukan pemantauan di 5 kota besar yakni Jakarta, Bandung, Makasar, Mataram dan Padang. Terdapat 360 sekolah yang dipantau selama periode Januari-Maret 2015.

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Hakim Diminta Dalami Kesaksian Pelajar Korban Penyiksaan Polisi

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14