Hari Anti-Penyiksaan, Menkumham: Klausul Anti-Penyiksaan Masuk Revisi KUHP

KBR, Jakarta - Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin mengklaim Indonesia selalu tunduk pada prinsip anti-penyiksaan.

NASIONAL

Kamis, 26 Jun 2014 15:00 WIB

Author

Bambang Hari

Hari Anti-Penyiksaan, Menkumham: Klausul Anti-Penyiksaan Masuk Revisi KUHP

anti, penyiksaan, menkumham, kuhp

KBR, Jakarta - Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin mengklaim  Indonesia selalu tunduk pada prinsip anti-penyiksaan.

Hal itu ditegaskan Amir menyusul peringatan Hari Anti-penyiksaan Internasional yang jatuh pada hari ini. Bahkan ia mengaku protokol internasional tentang anti-penyiksaan itu dijadikan masukan terhadap sistem hukum di Indonesia. Salah satu buktinya, pembaruan Kitab Undang Undang Hukum Pidana yang mengacu pada protokol internasional tersebut.

"Itu memang sudah menjadi pegangan baku. Kami memang terikat kepada setiap protokol seperti itu. Berbagai protokol yang sudah sangat bersemangat kami ratifikasi itu, terutama yang berkaitan dengan penegakan hak-hak asasi manusia itu sudah kami lakukan betul-betul. Bahkan upaya memperbarui KUHP kita antara lain karena itu," jelasnya ketika dihubungi KBR.

Working Group on the Advocacy Against Torture (WGAT) menilai Indonesia sampai saat ini tidak memiliki regulasi yang secara khusus mengatur penegakan dan penghukuman bagi pelaku-pelaku penyiksaan. Indonesia justru masih memiliki berbagai aturan yang pro penyiksaan.

Misalnya saja, beberapa qanun di Aceh yang masih berpotensi melanggar HAM dan aturan dalam Undang-undang Terorisme dan Narkotika yang berpeluang tersangka disiksa oleh penyidik agar mengakui perbuatannya. Hal ini berakibat, hukuman bagi pelaku-pelaku penyiksaan karena dijerat dengan KUHP lebih ringan, sehingga mengakibatkan pelaku dapat segera bebas dan berkeliaran, serta berpotensi untuk mengulangi perbuatannya.

Editor: M Irham

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.6: Kuliah di Perancis, Cerita dari Dhafi Iskandar

Insiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarkat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak