Esthi Susanti: Kami Menangis di Atas Tanah Dolly

Yang diambil adalah piring nasi warga Dolly, kenapa mereka tak pernah diajak bicara? Perlu grand design nasional.

NASIONAL

Rabu, 18 Jun 2014 14:05 WIB

Author

Luviana

Esthi Susanti: Kami Menangis di Atas Tanah Dolly

esthi, PSK, dolly

“Siapa yang mau menjadi pekerja seks? Tak ada yang mau menjadi pekerja seks. Ketika kami kecil, kami ditanya orangtua kami, mau jadi apa ketika dewasa nanti? Kami selalu menjawab ingin menjadi dokter, polisi atau Insinyur. Tak ada yang mau menjadi pekerja seks, karena profesi ini adalah profesi terakhir yang harus diambil ketika orang tak punya apa-apa lagi untuk menyelamatkan hidupnya.” (Esthi Susanti Hudiono)



KBR, Jakarta - Esthi Susanti Hudiono (56 tahun) adalah aktivis HIV/AIDS dari Hotline Surabaya yang sudah selama 22 tahun mendampingi para pekerja seks di Dolly, Surabaya. Warga Surabaya mengenalnya sebagai ‘ibu bagi para perempuan pekerja seks’. Ia melakukan advokasi dan pendampingan sejak tahun 1992 di Dolly ketika orang lain selalu mencemooh kehadiran para pekerja seks di sana. Ia menjadi generasi pertama aktivis pendamping Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia.

Semua karena kemiskinan, kata Esthi. Orang melacurkan dirinya karena miskin, tak sekolah dan butuh makan untuk menghidupi keluarga, jelas Esthi lagi. Berbekal keyakinan inilah, Esthi Susanti kemudian keluar dari pekerjaannya sebagai guru SMA di Surabaya dan memutuskan untuk mendampingi para pekerja seks di Dolly hingga kini.

Penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak di Surabaya yang akan dilakukan Rabu (18/6) malam ini  membuatnya berang. Para pekerja seks menangis. Ia menuding Pemerintah Kota Surabaya hanya ingin membangun kotanya menjadi kota yang lebih indah tanpa pernah memperhatikan nasib pekerja seks, mucikari dan warga yang hidup dari Dolly.

Esthi menuturkan kemarahannya, kekecewaan dan tangis  para pekerja seks di Dolly sesaat sebelum kawasan tersebut ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya hari ini.

Apakah penutupan Dolly dan Jarak adalah solusi? Atau justru membuka persoalan baru?

“Persoalan pekerja seks adalah persoalan yang sangat kompleks. Bagi saya ini adalah persoalan pembangunan di mana banyak perempuan marjinal dari desa dengan pendidikan yang rendah masuk dalam dunia pelacuran di kota-kota. Di Surabaya hal ini sudah lama terjadi yaitu sekitar 100 tahun lalu, ketika ada istri simpanan lalu tumbuh besar ketika kapitalisme masuk menjadi industri. Para laki-laki yang tak mau mempunyai istri simpanan lalu memilih melakukan hubungan seksual dengan para pekerja seks.”

“Dari sini kita bisa melihat sejumlah persoalan. Persoalan pertama adalah soal ekonomi perempuan desa, yang kedua adalah soal pendidikan bagi perempuan miskin yang tak memadai lalu mereka masuk dalam lingkaran pelacuran di kota. Disana ada keputusasaan, ada kekerasan, diskriminasi yang dialami para perempuan pekerja seks. Setelah itu persoalan lain yaitu masalah HIV/AIDS yang menjadi buruk dengan ditutupnya lokalisasi.“

Bagaimana reaksi pemerintah atas protes warga Dolly?


“Kami sudah sampaikan kepada Pemerintah Kota Surabaya soal protes kami, tapi mereka tak peduli. Kami juga pernah mengajak bertemu untuk membicarakan soal grand design pemecahan persoalan Dolly, tetapi kami tidak pernah didengarkan. Yang dilakukan Pemerintah Surabaya hanya membuat image agar kotanya bagus, namun tidak pernah bertanya pada manusianya. Modernisasi memang tak pernah mengindahkan manusia.”

Bagaimana cara Pemerintah Kota Surabaya menyelesaikan persoalan ini?

“Mereka menyelesaikan persoalan sendiri, warga Dolly tak pernah diajak berbicara. Tri Rismaharini (Walikota Surabaya, Red.)  tidak pernah datang ke sini, tak pernah mengajak berbicara dengan pekerja seks dan warga Dolly. Padahal yang diambil adalah piring nasi warga Dolly, namun mengapa mereka tak pernah diajak berbicara?”

Warga Dolly menolak untuk ditutup, namun ada warga lain yang kabarnya ingin Dolly segera ditutup?

“Yang menyetujui Dolly segera ditutup adalah warga Surabaya yang anak-anaknya tidak mau terkena dampak psikologis Dolly. Mereka juga menginginkan agar kotanya menjadi indah dan terbebas dari pelacuran. Saya bilang tak bisa sesederhana itu. Saya juga tak setuju pelacuran, saya juga tak setuju jika anak-anak nanti besarnya menjadi pelacur, namun tolong selesaikan persoalan para pekerja seks yang sudah terlanjur menjadi pelacur ini. Tolong pikirkan nasib mereka, nasib anak-anak mereka.”

Apakah ada model yang baik untuk menyelesaikan persoalan pekerja seks di Indonesia?

“Tidak ada yang baik, yang baik adalah menyelesaikan persoalan pembangunan, pendidikan bagi pekerja seks agar mereka tidak terjun ke dunia pelacuran.”

Grand design apa yang pernah Anda tawarkan?

“Grand design penyelesaian pekerja seks harus dilakukan secara nasional karena ini merupakan persoalan nasional. Ini jelas tak bisa disederhanakan. Dan yang penting harus memperhatikan kepentingan masyarakat secara plural. Presiden harus turun tangan langsung untuk memimpin bersama-sama Departemen Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS dan kepala-kepala daerah di Indonesia.”

Jika ditutup apa yang akan terjadi dengan nasib para pekerja seks?

“Mereka praktis akan lari dan menyebar ke mana-mana karena kota Surabaya tak mau lagi menerima mereka. Semua program HIV/AIDS yang sudah dikerjakan akan hancur karena ternyata pemerintah tidak mempunyai grand design penyelesaian soal kesehatan dan HIV/AIDS.”

Bagaimana dengan pola-pola pemberian ketrampilan yang banyak dilakukan pemerintah daerah?

“Pemberian ketrampilan seperti menjahit, membuat keset hanya dilakukan selama 3 bulan. Namun ini tidak pernah berhasil karena pemerintah tidak mengerjakannya secara serius.”

Bagaimana pendapat para pekerja seks mengenai penutupan ini?

“Pekerja seks adalah orang yang mudah dikendalikan. Mereka akan berbicara tergantung pada suara-suara di sekitarnya. Jika para mucikarinya menentang penutupan, maka mereka ikut menentang. Mana ada pekerja seks yang bisa protes? Tidak ada pekerja seks yang berani protes karena belum protes saja, mereka sudah menjadi korban, apalagi jika mereka protes? Tak ada yang membela mereka.  Situasi sangat mencekam, namun mereka menurut saja. Kami semua menangis, tak ada yang bisa kami lakukan lagi saat ini.”


Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 7

Ragam Bisnis Sustainable Fashion

Kabar Baru Jam 8

Akses Kesehatan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas termasuk Orang dengan Kusta