Hapus Iklan Rokok di Seluruh Media Massa!

KBR68H, Jakarta

NASIONAL

Senin, 17 Jun 2013 16:12 WIB

Author

Ade Irmansyah

Hapus Iklan Rokok di Seluruh Media Massa!

iklan rokok, hapus, media massa, komnas anak

KBR68H, Jakarta – Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Agen Bebas Rokok (Smoke Free Agents) meminta Menkominfo Tifatul Sembiring untuk menghapus iklan rokok di seluruh media massa lewat petisi di dalam sosial media. Salah satu penggegas petisi, M Ricki Cahyana mengatakan, hal ini dilakukan untuk mengurangi perokok pemula. Kata dia, iklan rokok dapat memancing anak muda untuk menjadi perokok aktif.

“Jadi kita tidak hanya berhenti sampai disini untuk membuat petisi On Line saja. Tapi kita nanti akan mengadakan audiensi dengan target-target petisi kita. Itu antara lain ada Komisi Perlindungan Anak Indonesia, ada Kemenkes, ada Kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, lalu juga ada Pemda DKI, ada Komisi Penyaiaran Indonesia, ada Komnas Ham dan Kemenkumham. Jadi kita gak akan berhenti sampai disini, kita bakal berjuang sampai iklan rokok itu berhenti total”, kata Ricki di Jakarta, Senin (17/6).

M Ricki Cahyana menambahkan Menkominfo adalah pihak yang bertanggung jawab membuat kebijakan media penyiaran, khususnya menetapkan sanksi. Menkominfo harus menjadikan UU kesehatan no 36/2009 sebagai acuan pelarangan iklan rokok. Pasal tersebut menjelaskan bahwa rokok mengandung zat adiktif dan putusan MK menjelaskan bahwa zat adiktif tidak boleh diiklankan.

Komisi Nasional Perlindungan Anak juga meminta pemerintah menghapuskan iklan rokok di diseluruh media massa. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan data Komnas PA tahun 2013 menyebutkan 92 persen anak terinspirasi merokok dari televisi. Sisanya dari spanduk, koran, majalah, konser musik dan radio. Kata dia, angka asumsi jumlah perokok anak saat ini mencapai 21 juta anak. Angka itu hampir sepertiga dari total jumlah perokok di Indonesia, termasuk akumulasi peningkatan berkali lipat dari jumlah beberapa tahun yang lalu.

“Kementerian kesehatan juga mengatakan soal biaya yang dikeluarkan negara untuk kesehatan karena sakit akibat rokok sebesar 200 Trilliun, datang 77 Trilliun berartikan pemerintah nombok. Jadi oleh karena itu saya kira petisi ini harus diteruskan dan kira beri apresiasi dan ini merupakan satu lagi, bukan dikendalikan iklan rokok tetapi harus dihapus. Menteri kesehatan masih malu-malu mengatakan hapus total iklan dan promosi industri rokok demi melindungi generasi selanjutnya”, kata Arist.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menambahkan, Pemerintah sebetulnya sudah memiliki Peraturan Pemerintah 109 yang mengatur soal iklan dan promosi rokok. Hanya saja kata dia, masih ada kompromi membolehkan dengan syarat seperti jam tayang iklan untuk media penyiaran dan larangan iklan di media cetak anak, remaja dan perempuan. PP ini bahkan mengatur sampai iklan kemasan di bungkus rokok dan penyertaan gambar ekstrem penyakit akibat asap rokok.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

RS di Jalur Gaza Kewalahan Tampung Pasien Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Kisah Pendamping Program Keluarga Harapan Edukasi Warga Cegah Stunting

Siapkah Sekolah Kembali Tatap Muka?

Eps8. Food Waste