Bagikan:

Tangani Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, Pemerintah akan Impor Vaksin

"Oleh karena jangka waktu yang ada ini kita harus hunting di bank vaksin."

NASIONAL

Selasa, 24 Mei 2022 09:52 WIB

Cegah PMK, petugas semprot disinfektan di peternakan sapi Sidoarjo, Jatim, Jumat (20/5/22).(Antara/U

Cegah PMK, petugas semprot disinfektan di peternakan sapi Sidoarjo, Jatim, Jumat (20/5/22).(Antara/Umarul Faruq)

KBR, Jakarta-    Pemerintah berencana akan mengimpor vaksin untuk hewan yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku atau PMK. Hal ini dilakukan sembari menunggu pembuatan vaksin dalam negeri.

Menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, rencana tersebut merupakan langkah jangka pendek yang akan diambil pemerintah guna menangani wabah PMK.

"Kami jamin insyaallah, mudah-mudahan kita bisa, tidak ada jual-jual vaksin dari luar, karena susah banyak yang tawarin dari mana-mana seperti Covid kemarin. Kita bilang tidak, kita bisa buat kok. Gitu lho. Walaupun memang dibutuhkan jangka waktu, oleh karena jangka waktu yang ada ini kita harus hunting di bank vaksin. Tidak banyak negara punya bank vaksin, tapi apakah sudah sesuai dengan serotipe yang kita temukan di surabaya. Mereka tetap yakin bisa," uajr Syahrul dalam Rapat Kerja di Komisi IV DPR, Senin (23/5/2022).

Syahrul mengatakan, penyebaran infeksi PMK tidak boleh dianggap ini ringan. Akan tetapi, dia masih bersyukur daerah zona hijau masih lebih banyak ketimbang zona merah dan kuning dalam peta zona infeksi PMK di tanah air.

Baca juga:

Jokowi: Segera Atasi Penyakit Kuku dan Mulut Hewan Ternak

Ribuan Ternak Terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku Ini Antisipasi Pemerintah


Saat ini, Kementan tengah membahas bersama Komisi Ahli Kesehatan Hewan mengenai pembuatan vaksin sesuai serotipe yang ditemukan, yakni O dengan strain IND-2001. Serotipe tersebut umumnya tersebar di wilayah Asia Tenggara.

Sebelumnya, Kementa mencatat, jumlah ternak yang terdampak virus PMK sebanyak 3,9 juta ekor. Sementara itu, hewan ternak yang mengalami sakit berdasarkan hasil konfirmasi tes PCR di laboratorium sebanyak 13.968 ekor atau 0,36 persen dari total populasi ternak yang terdampak. 


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?