Bagikan:

Menkeu: Tiga Tantangan Pemulihan Ekonomi

"Tiga tantangan yang sama beratnya. Inflasi tinggi, menyebabkan suku bunga tinggi dan pertumbuhan ekonomi melemah."

NASIONAL

Selasa, 24 Mei 2022 08:36 WIB

Menkeu Sri Mulyani menjelaskan APBN Kita, Senin (23/5/22). (Kemenkeu)

Menkeu Sri Mulyani. (Antara)

KBR, Jakarta-   Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI) Sri Mulyani menyebut ada tiga tantangan yang berhadapan dengan pemulihan ekonomi, pasca pandemi Covid-19. Tantangan ini berlaku untuk semua negara di dunia, termasuk Indonesia.

"Jadi dunia dihadapkan pada, dari sisi ekonominya triple challenge atau tiga tantangan yang sama beratnya. Inflasi tinggi, menyebabkan suku bunga tinggi dan pertumbuhan ekonomi melemah. Tiga hal ini akan sangat mempengaruhi environment dari ekonomi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Yaitu inflasi global yang tinggi, suku bunga tinggi, dan potensi pelemahan ekonomi," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita hari ini (23/05/22).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan tantangan ini ada karena dipicu oleh harga komoditas dunia yang melonjak tajam, akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

Baca juga:


Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di antaranya gas alam yang naik 125,8 persen (ytd), minyak mentah jenis Brent 45,7 persen (ytd), CPO 20,9 persen (ytd), dan jagung 31,6 persen (ytd).

"Ini langsung dirasakan rakyatnya sehingga masyarakat di negara tersebut menghadapi inflasi tinggi," ucapnya.

Beberapa negara bahkan mencatat rekor baru dari inflasi negaranya.

"Brasil 12,1 persen, Amerika Serikat 8,5 persen, dan Inggris 9 persen. Ini inflasi tertinggi 40 tahun di negara-negara advanced. Kemudian Afrika Selatan 5,9 persen dan Australia 7,7 persen," katanya.

Meski begitu ia mengklaim inflasi di Indonesia masih terkendali.

"Untuk Indonesia sampai saat ini, inflasi masih kita coba kendalikan. Karena tidak semua, kenaikan harga-harga dunia dirasakan oleh rakyat atau di pass through ke masyarakat. Tentu akibatnya kita memberikan subsidi atau berbagai langkah-langkah untuk menjaga stabilitas," imbuhnya.

  
Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?