Bagikan:

Waspada KIPI Vaksin COVID-19

Komnas KIPI meminta meminta masyarakat jujur saat melakukan screening kesehatan karena informasi itu penting untuk menentukan boleh tidaknya seseorang mendapat vaksin.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 25 Mei 2021 00:44 WIB

Author

Tim KBR

Waspada KIPI Vaksin COVID-19

Warga lansia mendapat suntikan vaksin Sinovac di Kota Gorontalo, Rabu (19/5/2021). (Foto: ANTARA/Adiwinata Solihin)

KBR, Jakarta - Program vaksinasi Covid-19 kini sudah memasuki gelombang ketiga. Sejak program vaksinasi Covid-19 dimulai awal tahun lalu, Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) mencatat ada lebih dari 10 ribuan laporan kejadian.

Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Safari menyebut sebagian besar merupakan kategori ringan seperti demam dan nyeri otot. Namun, ada 200-an kasus yang teridentifikasi sebagai kejadian pascaimunisasi kategori berat atau serius setelah disuntikkan vaksin Sinovac dan AstraZeneca.

“Laporan KIPI serius 229 laporan ini sampai tanggal 16 Mei 2021. Sinovac, 211 laporan dan AstraZeneca ada 18 laporan. Mengenai laporan KIPI yang non-serius, demam, pusing, nyeri otot ada 10.627 laporan yang masuk. Yang terbagi atas Sinovac, 9.738 laporan dan AstraZeneca 889 laporan,” kata Hindra saat Rapat dengan Komisi IX DPR, Kamis (20/5/2021).

Bahkan, dari laporan KIPI tersebut, Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Safari menyebut sekitar 30 orang meninggal, setelah diberi vaksin Sinovac dan AstraZeneca.

“Yang meninggal itu yang dari Sinovac ada 27 (orang), dari 27 (orang) itu 10 orang karena terinfeksi Covid-19, 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah, satu orang karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak, dua orang diabetes melitus dan hipertensi yang tidak terkontrol. Kenapa kami bisa membuat diagnosis seperti itu? Karena datanya lengkap, diperiksa dirawat, di-rontgen, diperiksa lab, CT Scan. Jadi dapat diagnosisnya,” papar Hindra.

Sedangkan, tiga orang meninggal setelah mendapat vaksin AstraZeneca. Satu orang meninggal karena sudah terinfeksi Covid-19, satu orang karena radang paru, dan satu lainnya belum diketahui alasan pasti lantaran kekurangan data kesehatan.

Hindra mengklaim sebagian besar KIPI yang terjadi bisa ditangani oleh petugas kesehatan. Ia juga meminta masyarakat jujur saat melakukan screening kesehatan karena informasi itu penting untuk menentukan boleh tidaknya seseorang mendapat vaksin.

Tidak terkait vaksin

Sementara menanggapi adanya laporan efek samping berat yang dialami masyarakat setelah menerima vaksin AstraZeneca batch CTMAV547, Kementerian Kesehatan lantas menghentikan sementara penggunaan vaksin tersebut.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, penghentian sementara dilakukan sambil menunggu hasil investigasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Nadia mengklaim, dari beberapa kasus yang terjadi, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) tidak berhubungan dengan vaksin yang disuntik. Melainkan berhubungan dengan kondisi kesehatan atau adanya berbagai penyakit bawaan atau komorbid.

Dengan adanya kemungkinan KIPI dari vaksin AstraZeneca, pemerintah memilih menunda dahulu penggunaannya untuk batch CTMAV547.

“Vaksin dengan AstraZeneca dengan batch CTMAV547 itu sampai saat ini tidak ada kecurigaan apapun terhadap kualitas vaksin tersebut. Jadi penghentian sementara yang dilakukan ini adalah bertujuan untuk kehati-hatian. Mengapa kita katakan kehati-hatian? Adalah karena ini merupakan bagian dari proses investigasi adanya kejadian KIPI yang fatal atau serius tadi. Jadi kita tahu dalam proses investigasi untuk menentukan apakah kejadian kematian ataupun KIPI lainnya itu berhubungan dengan vaksin yang disuntikan, itu kan harus dilihat dari pertama, orang yang menerima vaksinnya sendiri apakah ada penyakit penyerta atau kondisi-kondisi tertentu. Dan ini tentunya dilihat dari berbagai informasi riwayat kesehatannya,” kata Nadia saat dihubungi KBR, Jumat (21/5/2021).

Nadia menegaskan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 tidak ditarik dari daerah. Vaksin itu hanya ditunda penggunaannya sembari menunggu hasil investigasi Badan POM.

Saat ini vaksin itu masih disimpan di gudang-gudang daerah, dengan masa penyimpanan vaksin itu hingga akhir Juni mendatang.

“Jadi tentunya karena vaksin ini sampai saat ini tidak bermasalah ya tentunya, vaksin ini ditunda saja. Jadi tidak ada penarikan. Kami tegaskan kembali, tidak ada penarikan terhadap vaksin CTMAV547. Hanya penundaan penggunaannya maupun distribusi lebih lanjutnya. Karena kita tahu vaksin ini sudah ada yang di gudang vaksin di provinsi, di kabupaten/kota, juga ada yang di gudang-gudang Bio Farma di kabupaten/kota, ada yang sampai ke fasyankes baik itu puskesmas ataupun sentra-sentra vaksinasi. Nah ini ditunda dulu sampai dengan selesai hasil investigasinya gitu,” tambah Nadia.

Nadia meminta masyarakat tak ragu mengikuti vaksinasi meski ada berbagai kasus KIPI. Kata dia, respon usai disuntik akan tergantung pada kondisi masing-masing individu. Untuk itu, masyarakat disarankan terbuka dan jujur mengenai kondisi kesehatan sebelum divaksin.

Perketat screening

Senada dengan pemerintah, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan Ede meminta pengetatan screening kesehatan tetap harus dilakukan agar kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa diminimalisasi.

“Yang namanya screening itu harus dilakukan dengan benar dan supaya menghindari kesalahan-kesalahan, dan petugasnya juga harus disiplin jangan kemudian kesannya yang penting ada tapi harus dilakukan dengan benar. Yang kedua buat masyarakatnya adalah kalau memang ada persoalan kesehatan yang mereka harus mengakui dan menyampaikan, jangan juga menutupi. Jadi dua pihak itu harus selalu berkoordinasi, masyarakat siap petugasnya berkualitas,” kata Ede saat dihubungi KBR, Kamis (20/5/2021).

Sementara Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan transparansi dalam vaksinasi, termasuk dalam pelaporan kejadian pascaimunisasi sangat penting.

Menurutnya, transparansi itu tidak hanya akan melindungi masyarakat, tapi juga dapat membangun kepercayaan dan penerimaan terhadap vaksin Covid-19. 

Dicky mencontohkan Australia yang menyampaikan apa adanya temuan efek samping dari vaksin, juga ada kasus yang terkait pembekuan darah.

“Hal-hal seperti ini harus disampaikan apa adanya, karena kita juga tidak tahu sebetulnya ada kaitan yang lebih bisa dijelaskan secara ilmiah itu apa. Tapi kalau kita tutup-tutupi malah jadinya di masyarakat berkembang hal yang makin buruk. Tapi kita sampaikan juga bahwa ini masih harus terus dilakukan riset yang lebih mendalam,” kata Dicky dalam diskusi virtual yang diselenggarakan LaporCovid-19, Minggu (23/5/2021).

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Catatan untuk TNI

Most Popular / Trending