covid-19

Klaster Tarawih Meningkat, Waspada Klaster Idulfitri

"Untuk daerah-daerah dengan kecepatan angin di bawah 50 Mph, itu sebaiknya ada kipas angin. Sirkulasi udara penting untuk mengurangi potensi penularan."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 11 Mei 2021 23:45 WIB

Klaster Tarawih Meningkat, Waspada Klaster Idulfitri

Ilustrasi. Ratusan warga mengikuti salat tarawih di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Senin (12/4/2021). (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra)

KBR, Jakarta - Munculnya penyebaran COVID-19 melalui klaster salat tarawih memunculkan kekhawatiran ledakan kasus pada saat lebaran atau melalui klaster salat Idulfitri.

Baru-baru ini mulai munculnya klaster kegiatan ibadah Ramadan, salah satunya salat tarawih. Klaster salat tarawih terjadi di beberapa daerah seperti Pati dan Banyumas Jawa Tengah, serta Banyuwangi, Jawa Timur.

Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, misalnya, jumlah warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 dari klaster salat tarawih terus bertambah.

Dari hasil penelusuran Satgas Penanganan Covid-19 Banyuwangi, ada tambahan sembilan orang yang dinyatakan positif virus korona dan 1 diantaranya meninggal dunia.

Dengan demikian, total warga yang terkonfirmasi posistif dari klaster tarawih tersebut mencapai 62 orang.

Sedangkan di Pati, Jawa Tengah, kasus positif dari klaster tarawih mencapai lebih dari 50 orang.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan klaster salat tarawih mesti menjadi pelajaran agar tidak terjadi pada klaster salat idulfitri.

Wiku meminta Satgas di daerah aktif mengawasi tempat-tempat ibadah untuk menghindari klaster tambahan.

"Yang ingin melakukan ibadah agar memperhatikan zonasi risiko di tingkat RT nya masing-masing. Apabila zonasi tempat tinggalnya merupakan zona merah dan orange maka kegiatan ibadah dapat dilakukan dirumah saja. Namun apabila berada di zona kuning dan hijau, ibadah dapat dilakukan di masjid tetapi dengan tetap memakai protokol kesehatan secara ketat," kata Wiku dalam siaran pers secara daring, Selasa (11/5/2021).

"Pastikan juga sebelum beribadah masyarakat dalam kondisi sehat dan jangan berkunjung ke tempat ibadah apabila dalam kondisi sakit. Saya juga meminta kepada sakit di daerah untuk dapat meningkatkan pengawasan kepada masyarakat khususnya di tempat ibadah untuk mencegah munculnya klaster," tambah Wiku.

Kebijakan pelaksanaan ibadah salat Idulfitri disikapi berbeda-beda oleh pemerintah daerah.

Di Jawa Timur, mesti menjadi daerah yang memiliki klaster salat tarawih, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengizinkan lebih dari 8000 masjid menggelar salat Idulfitri berjamaah.

"Jadi Jawa Timur ini dari 8.501 desa dan kelurahan, ada satu desa yang masuk kategori zona merah yakni di Banyuwangi. Jadi hanya di desa itu masyarakat diharapkan shalat ied di rumah. Di luar itu boleh, diatur oleh Satgas Covid 19," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Senin (10/5/2021).

Kendati pemerintah daerah membolehkan salat Idulfitri bagi warga di luar zona merah, Khofifah minta pelaksanaan protokol kesehatan tetap diperketat.

Pelaksanaan salat bagi zona orange hanya diisi maksimal 15 persen jamaah dan zona hijau diikuti oleh 50 persen jamaah dari daya tampung masjid.

Sementara itu di DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan salat Idulfitri di area Jakarta dan sekitarnya dianjurkan dilaksanakan di rumah masing-masing.

Anies mengatakan pelaksanaan salat idulfitri di masjid maupun di lapangan harus menerapkan protokol kesehatan, dengan kapasitas 50 persen.

"Salat Idulfitri dianjurkan di rumah masing-masing. Dan bagi warga yang melaksanakan salat di luar rumah, maka dianjurkan untuk melaksanakannya di tempat salat Id setempat. Jangan pergi jauh untuk sekadar melaksanakan salat Id, supaya lokasi-lokasi kegiatan salat adalah lokasi yang dikunjungi orang setempat. Ini untuk menghindari potensi penularan lintas wilayah dan semua dianjurkan berada di lokasi yang sama," kata Anies di Balai Kota, Senin (10/5/2021).

Dalam rapat koordinasi antardaerah penyangga, Anies mengatakan telah disepakati anjuran agar masyarakat tidak saling mengunjungi dalam momentum lebaran, meski dalam wilayah yang sama.

"Ini menjawab yang selama ini sering menjadi diskusi bahwa saling mengunjungi dalam kampung, antarkampung, maupun antarkelurahan, antarkecamatan tidak dianjurkan," sambungnya.

Kegiatan halalbihalal dan open house juga ditiadakan tahun ini. Kegiatan seperti silahturahmi, mendatangi tokoh masyarakat, tokoh agama, teman, dan saudara, dianjurkan menggunakan media virtual.

Di sisi lain, ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengingatkan, jika daerah tetap menggelar salat idulfitri, maka pemda harus melakukan pemetaan wilayah yang aman untuk melaksanakan salat.

Dicky menyarankan salat idulfitri tetap dilakukan di lapangan terbuka agar sirkulasi udara di area salat tetap terjaga.

"Pada saat kegiatan salat Idulfitri, sebaiknya pemerintah daerah sudah dari sekarang buat atau memverifikasi daftar lokasi tempat ibadah sesuai sudah disesuikan dengan lokasi lahannya yang outdoor, siap dengan petugasnya, siap dengan prasarananya. Misalnya ada batasan-batasan mana pintu masuk," kata Dicky kepada KBR, Selasa (11/5/2021).

"Walaupun ini di lapangan, harus ada jalur mana masuk mana keluar, mana laki-laki, mana perempuan. Kemudian juga menurut saya untuk daerah-daerah dengan kecepatan angin di bawah 50 Mph, itu sebaiknya ada kipas angin. Sirkulasi udara penting untuk mengurangi potensi penularan,"

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona