covid-19

Kapan Penularan Covid-19 Berhenti? Ini Penjelasan WHO

"Nanti kalau seluruh dunia 95 persen penduduk dunia ini sudah terimunisasi rata ke semua negara tidak ada yang duluan"

BERITA | NASIONAL

Jumat, 28 Mei 2021 21:06 WIB

Kapan Penularan Covid-19 Berhenti? Ini Penjelasan WHO

Ilustrasi program vaksinasi

KBR, Jakarta - Penasihat Senior untuk Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Diah Satyani Saminarsi menyatakan, penularan virus korona kemungkinan baru akan berhenti ketika 90 persen penduduk di dunia sudah mendapat vaksin COVID-19. Jika tidak, katanya, penularan Covid-19 di dunia masih akan terus terjadi.

"Jadi sebenarnya penularan itu tidak berhenti dengan adanya vaksin. Tidak serta merta berhenti. Nanti kalau seluruh dunia 95 persen penduduk dunia ini sudah terimunisasi rata ke semua negara tidak ada yang duluan. Misalnya kayak sekarang Amerika Serikat 50 persen, Indonesia 5 persen, padahal jumlah penduduknya mirip-mirip, nggak terjadi ketimpangan seperti itu. Baru kita bisa bicara soal berhentinya penularan. Saat ini belum (berhenti)," ujar Diah kepada KBR melalui sambungan telepon, Jumat (28/5/2021).

Diah juga menyayangkan masih banyak penduduk yang merasa kebal setelah divaksin. Ia menyarankan pemerintah Indonesia menggencarkan tes, pelacakan, dan karantina kasus meski program vaksinasi sudah berjalan. Termasuk mulai membuka wacana menggratiskan tes Covid-19.

"Itu perlu dilakukan karena permintaan tes mandiri mulai menurun," katanya.

Dunia Jangan Lengah Tangani Pandemi Covid-19

Diah juga mengingatkan negara-negara untuk tidak lengah menangani pandemi Covid-19, meski vaksin telah tersedia.

Menurutnya, saat ini terjadi miskalkulasi di sejumlah negara yang telah memulai vaksinasi. Seperti banyak masyarakat dunia yang merasa sudah kebal padahal cakupan vaksinasi di negaranya masih sedikit.

"Untuk para pembuat kebijakan juga tidak berarti, sudah masuk masa vaksinasi berarti nggak usah testing lagi. Justru bahkan sebaliknya. Dengan adanya vaksinasi masuk, testing-nya itu harus makin kuat. Nah barangkali di titik ini banyak miskalkulasi yang terjadi. Sehingga kelengahan itu membuat orang mulai bisa bepergian, tidak ada lagi pengontrolan mobilisasi manusia atau publik, lalu lengah tidak lagi sering cuci tangan, nggak lagi pakai masker, dan mulai menurunnya demand untuk self testing," ungkap Diah.

apalagi mulai banyak varian baru yang bermunculan, imbuhnya.

Dia juga menekankan, mulainya vaksinasi bukan berarti protokol kesehatan tidak diterapkan. Apalagi, kata dia, vaksin tidak bisa mencegah orang tertular dari virus korona, tapi hanya mampu mengurangi risiko keparahan jika tertular.

"Karena kalau kita kan naturally mendapat suntikan, oh kayaknya saya sudah nggak apa-apa, berarti saya sudah less risk untuk kena. Padahal sebenarnya nggak," pungkas Diah Satyani Saminarsih.


Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Niatan Berantas Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11