AJI: Mayoritas Jurnalis Perempuan Pernah Jadi Korban Kekerasan Seksual

Pelaku kekerasan seksual dalam kasus tersebut cenderung beragam.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 04 Mei 2021 09:00 WIB

Author

Yovinka Ayu

AJI: Mayoritas Jurnalis Perempuan Pernah Jadi Korban Kekerasan Seksual

Ilustrasi setop kekerasan terhadap jurnalis. Dkw

KBR, Jakarta- Puluhan jurnalis di Indonesia pernah mengalami kekerasan seksual. Hal ini berdasarkan data survei yang disampaikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Hasil survei itu disampaikan Ketua Bidang Advokasi AJI Erick Tanjung dalam acara Peluncuran Catatan AJI atas Situasi Kebebasan Pers di Indonesia 2021 yang diselenggarakan secara daring, Senin, 3 Mei 2021.

“Ini yang mengejutkan, dari Survei AJI Jakarta 2020, dari 34 responden jurnalis yang mengisi survei terdapat 25 jurnalis yang pernah mengalami kekerasan seksual. Nah, ini mayoritas korbannya adalah jurnalis perempuan,” kata Erick dalam acara Peluncuran Catatan AJI atas Situasi Kebebasan Pers di Indonesia 2021 di kanal YouTube AJI Indonesia, Senin (3/5/2021).

Ketua Bidang Advokasi AJI Erick Tanjung mengatakan pelaku kekerasan dalam kasus tersebut cenderung beragam. Mulai dari narasumber pejabat publik, narasumber nonpejabat publik, hingga atasan di kantor tempat jurnalis tersebut bekerja.

Kekerasan terhadap Jurnalis Meningkat Tajam

Sementara itu, AJI Indonesia juga mencatat terdapat 90 kasus kekerasan yang dialami jurnalis di Indonesia dalam periode setahun terakhir.

Ketua Umum AJI Sasmito mengatakan jumlah tersebut menjadi yang paling banyak dalam 10 tahun terakhir.

“Bahkan di tahun 2020 kemarin, Januari sampai Desember itu ada 84. Tapi ketika kita hitung Mei 2020 sampai Mei 2021 itu ada 90 kasus. Ini artinya peningkatan dalam 10 tahun terakhir cukup banyak sekali,” kata Sasmito dalam acara Peluncuran Catatan AJI atas Situasi Kebebasan Pers di Indonesia 2021 di kanal YouTube AJI Indonesia, Senin (3/5/2021).

Ketua Umum AJI Sasmito mengatakan pelaku kekerasan terhadap jurnalis didominasi oleh aparat kepolisian. Hal itu menjadi ironi mengingat polisi seharusnya menjadi pelindung bagi masyarakat, termasuk jurnalis.

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri