Profesor Epidemiologi: Berdamai dengan Covid-19 Bukan Ide Bagus

"Untuk penyakit yang tidak begitu parah pendekatan ini mungkin masuk akal. Tetapi situasi untuk SARS CoV-2 berbeda, Covid-19 memiliki risiko penyakit parah dan bahkan kematian jauh lebih tinggi."

BERITA | NASIONAL

Senin, 18 Mei 2020 13:19 WIB

Author

Adi Ahdiat

Profesor Epidemiologi: Berdamai dengan Covid-19 Bukan Ide Bagus

Seorang polisi mengawasi pembatasan jarak fisik di sebuah taman di New York, Amerika Serikat, Sabtu (16/5/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Presiden Jokowi mengajak masyarakat Indonesia 'berdamai' dengan Covid-19. Hal ini disampaikan Jokowi dalam konferensi pers terkait isu pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Jumat lalu (15/5/2020).

"Dan kita memang harus berkompromi dengan Covid-19, bisa hidup berdampingan dengan Covid-19 yang kemarin saya bilang, kita harus berdamai dengan Covid-19," kata Jokowi di kesempatan tersebut, seperti dilansir situs Presiden RI.

"Karena informasi terakhir dari WHO yang saya terima, bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang. Artinya, sekali lagi, kita harus berdampingan hidup dengan Covid-19. Sekali lagi, yang penting masyarakat produktif dan aman dari Covid-19." 

"PSBB terus (diterapkan), tapi seperti tadi yang sudah saya sampaikan, kita harus memiliki sebuah tatanan kehidupan baru untuk bisa berdampingan dengan Covid-19. Artinya, kehidupan masyarakat berjalan. Sekali lagi, kehidupan masyarakat berjalan tapi kita juga harus bisa menghindarkan diri dari Covid-19 dengan cara tadi, cuci tangan setelah beraktivitas, jaga jarak yang aman, dan pakai masker."

"Tentu saja nanti setelah diputuskan, sektor-sektor usaha yang tutup, berangsur-angsur bisa buka kembali. Tentu dengan cara-cara yang aman dari Covid-19 agar tidak menimbulkan risiko meledaknya wabah. Saya ambil contoh, misalnya restoran bisa mulai buka tapi isinya mungkin hanya 50 persen, jarak antarkursi diperlonggar, jarak antarmeja diperlonggar," katanya lagi.


Berdampingan dengan Covid-19 Itu Berbahaya

Tak seperti Jokowi, ahli epidemiologi menilai konsep 'berdamai' atau 'hidup berdampingan' dengan Covid-19 itu tidak selayaknya diterapkan karena berbahaya.

Menurut Gypsyamber D'Souza, profesor epidemiologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, herd immunity atau kekebalan kawanan terhadap virus bisa saja terjadi jika ada banyak orang yang sengaja dibiarkan terinfeksi. Tapi, ia menilai strategi ini tidak tepat untuk menghadapi virus penyebab Covid-19 yaitu SARS CoV-2.

"Kenapa 'berdamai' dengan infeksi SARS CoV-2 itu bukan ide bagus? Untuk penyakit yang tidak begitu parah pendekatan ini mungkin masuk akal. Dalam kasus penyakit lain seperti cacar air, orang terkadang sengaja mengekspos dirinya pada infeksi virus untuk menciptakan kekebalan. Tetapi situasi untuk SARS CoV-2 sangat berbeda, Covid-19 memiliki risiko penyakit parah dan bahkan kematian yang jauh lebih tinggi," kata D'Souza di situs resminya.

"Tingkat kematian Covid-19 belum diketahui jelas, tetapi data saat ini menunjukkan tingkat kematiannya sudah 10 kali lebih tinggi daripada flu. Risiko kematian lebih tinggi lagi untuk kelompok rentan seperti orang tua dan orang dengan kekebalan tubuh lemah. Yang terbaik adalah menghindari infeksi agar dokter dan rumah sakit tidak kewalahan," lanjutnya.

Ia pun menegaskan langkah pembatasan interaksi fisik atau pembatasan sosial perlu terus diterapkan sampai vaksin ditemukan.

"Para ilmuwan sedang bekerja keras untuk mengembangkan vaksin yang efektif. Sementara itu, karena sebagian besar penduduk masih belum terinfeksi SARS-CoV-2, diperlukan langkah-langkah pembatasan untuk mencegah meledaknya wabah seperti yang kita lihat di New York," katanya.

Menurut data Pemerintah Kota New York sampai Minggu (17/5/2020) kasus infeksi Covid-19 di kotanya sudah mencapai sekitar 190 ribu orang.

Dari jumlah itu sekitar 50 ribu pasien dirawat di rumah sakit, 15 ribu pasien positif meninggal, dan ada 4 ribu lebih orang yang belum dikonfirmasi positif namun meninggal dengan gejala Covid-19. 

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Slovakia Akan Gelar Tes Covid-19 Gratis

Eps6. Masyarakat Peduli Api

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Hoaks Covid Terus Berjangkit