Kebun Binatang Indonesia "Sekarat" di Tengah Pandemi

Dari 60 anggota PKBSI, 90 persen hanya mampu memberi pakan satwa kurang dari satu bulan. Sementara sebagian lainnya dapat bertahan hingga akhir Juli.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 06 Mei 2020 23:00 WIB

Author

Vitri Angreni Gulo

Kebun Binatang Indonesia

Dokter hewan memeriksa kesehatan Gajah Sumatera (Elephanus maximus sumatrensis) di Medan Zoo atau kebun binatang Medan, Sumatera Utara, Rabu (29/4/2020). ANTARA FOTO/Septianda Perdana

KBR, Jakarta- Pandemi Covid-19 tak hanya mengancam kesehatan, virus ini juga menyasar sejumlah sektor ekonomi khususnya pariwisata. Bidang pariwisata yang terdampak adalah kebun binatang.

Peniadaan kunjungan wisatawan ke kebun binatang menyebabkan keuangan managemen sekarat. Itu dibuktikan oleh survei Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI). 

Hasilnya cukup mengkhawatirkan, dari 60 anggota PKBSI, 90 persen kebun binatang hanya mampu memberi pakan satwa kurang dari satu bulan. Sementara sebagian lainnya dapat bertahan hingga akhir Juli.

Juru Bicara Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), Sulhan Syafii menyebutkan sedikitnya ada lebih dari 50 ribu satwa di Indonesia yang terdampak situasi ini.

"Total satwa (di seluruh Indonesia) yang terdampak baik herbivora, carnivora, apes, burung, kucing besar serta reptil mencapai lebih dari 50 ribu ekor dengan empat ribuan jenis. Satwa ini tetap harus dipelihara dengan baik, karena ini berkaitan dengan kesejahteraan satwa," ujar Sulhan Syafii dalam program Ruang Publik KBR, Rabu (6/5/20).

Atas kondisi ini, sejumlah kebun binatang menurut Sulhan harus bekerja ekstra mengumpulkan bantuan untuk menyelamatkan satwa. Adapun bantuan yang diterima di antaranya donasi uang dan pakan untuk satwa. Saat ini donasi uang yang sudah masuk ke PKBSI melalui sejumlah platform penggalangan dana Kitabisa sudah mencapai ratusan juta rupiah.

"Donatur juga membantu memberi pakan seperti buah-buahan, daging ayam, telur," tambah Sulhan.

Sulhan yang juga juru bicara Bandung Zoological Garden ini menyampaikan bahwa biaya pakan yang dibutuhkan satu kebun binatang seperti Bandung Zoo ini mencapai 300 juta rupiah per bulan. Di tengah krisis, saat ini Bandung Zoo menerapkan skema 'puasa daud satwa' (jeda makan sehari) untuk menghemat anggaran.

Opsi Terburuk Jika Tak Ada Dana

Sulhan menambahkan, opsi terburuk jika hingga dua bulan ke depan tidak ada pemasukan dana karena kunjungan masih dilarang maka manajemen kebun binatang akan merelakan sebagian satwa herbivora dijadikan pakan untuk satwa carnivora.

Pihak kebun binatang menurutnya juga akan memprioritaskan satwa endemik Indonesia ketimbang satwa impor.

"sampai akhir Juli jika tidak ada pemasukan dana serta donasi maka kita akan memotong angsa, rusa untuk diberikan ke carnivora seperti macan tutul jawa, harimau sumatera, karena itu yang lebih eksotik untuk diselamatkan," ujarnya.

Sementara itu, menurut lembaga pemerhati binatang, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) opsi memangsakan hewan herbivora ke carnovora dapat dilakukan jika dana cadangan manajemen sudah habis. 

Ketua JAAN, Benvika menyebut, opsi ini lebih baik dilakukan ketimbang pelepas liaran satwa. Menurutnya, pelepas liaran hanya akan membahayakan satwa.

"Hewan yang sudah ada di kebun binatang itu sudah terlalu jinak, sehingga tidak bisa dilepasliarkan," ujar Benvika.

Tak hanya itu Ibenk, sapaan akrab Benvika meminta pemerintah untuk andil membantu satwa baik yang berada di kebun binatang termasuk yang dikelola oleh pihak swasta.

Editor: Ardhi Rosyadi

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kembali Izinkan Umrah, Saudi Umumkan Ketentuan

Eps7. Jejak Kearifan Lokal Gambut

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi Covid-19, Suara Penolakan dari Garda Terdepan

Kabar Baru Jam 8