Eijkman: Vaksin Covid-19 Mahal, Indonesia Harus Bisa Produksi Sendiri

"Kalau misalnya kita bisa beli (vaksin dari luar negeri) 1 juta dosis per minggu berarti kan kita butuh 260 minggu. Itu kan 5 tahun untuk menyelesaikan vaksinasinya."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 20 Mei 2020 20:41 WIB

Author

Astri Septiani, Adi Ahdiat

Eijkman: Vaksin Covid-19 Mahal, Indonesia Harus Bisa Produksi Sendiri

Petugas medis berpose usai memeriksa kesehatan tunawisma di ruang penampungan GOR Ciracas, Jakarta Timur, Senin (3/5/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Subandrio menilai Indonesia harus mampu membuat vaksin Covid-19 secara mandiri.

Masalahnya, penduduk Indonesia sangat banyak. Amin menilai biaya membeli vaksin dari luar negeri akan sangat tinggi, termasuk ongkos pengirimannya. Belum lagi pasokan dari luar negeri juga butuh waktu lama untuk masuk dan jumlahnya bakalan terbatas.

Karena itu, menurut Amin produksi vaksin Covid-19 secara mandiri adalah solusi utama.

"Kalau misalnya kita bisa beli (dari luar negeri) 1 juta dosis per minggu berarti kan kita butuh 260 minggu. Itu kan 5 tahun untuk menyelesaikan vaksinasinya. jadi kita tidak boleh tergantung sama supply luar negeri. Kita harus bikin sendiri," kata Amin, Rabu (20/5/2020).

Amin menyatakan saat ini Eijkman tengah mengembangkan vaksin Covid-19 berdasarkan teknologi protein rekombinan. Ia mengklaim vaksin ini dibuat dengan informasi genetik virus Covid-19 yang ada di Indonesia sehingga hasilnya akan lebih efektif.

"Prosesnya masih cukup panjang karena proses normalnya masih lama ya. Tapi karena ini pandemi, kami hanya diberi waktu 12 bulan untuk bisa menghasilkan bibit vaksin untuk diserahkan ke industri kemudian akan diteruskan ke clinical trial. Penting itu. Makanya Indonesia harus bikin sendiri untuk virus yang beredar di Indonesia," kata Amin.

Ia juga mengungkapkan sampai sekarang Indonesia belum terlibat dalam solidarity trial atau program uji coba global penelitian vaksin Covid-19.

"Indonesia merupakan negara yang menarik untuk diundang atau ikut serta (solidarity trial) karena penduduknya besar, multietnik. Tapi kita belum ada yang confirm. Artinya undangan dan permintaan ada, tetapi belum ada. Artinya kita belum terlibat di penelitian itu," ungkapnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja