Ahli Epidemi: Herd Immunity Tidak Relevan untuk Covid-19

"Kalau 80 persen (penduduk Indonesia) terinfeksi itu berarti 200 juta orang. Ada 10 juta yang meninggal, atau 20 juta yang meninggal, kan nggak mungkin. Tidak relevan kita bicara herd immunity."

BERITA | NASIONAL

Senin, 18 Mei 2020 13:59 WIB

Author

Lea Citra, Adi Ahdiat

Ahli Epidemi: Herd Immunity Tidak Relevan untuk Covid-19

Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, dipadati calon penumpang meski ada PSBB dan larangan mudik, Kamis (14/5/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Strategi herd immunity atau menciptakan kekebalan kawanan terhadap virus tidak tepat diterapkan untuk menghadapi Covid-19. Hal ini ditegaskan ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Syahrizal Syarif. 

"Herd immunity itu kan hanya bisa dibangun dengan dua cara. Yang pertama dengan vaksinasi, yang kedua untuk penyakit yang memberikan kekebalan permanen setelah sakit. Hanya dua itu jalan untuk mencapai herd immunity," jelas Syarif.

"Nah, pertama vaksinasi, kita belum ada vaksin. Yang kedua, penyakit Covid-19 tidak memberikan kekebalan permanen orang setelah sakit. Jadi percuma. Kalau hari ini saya sakit lalu tiga minggu lagi saya sembuh, pulang ke rumah jalan-jalan di mall, saya ketularan lagi. Reinfeksi namanya. Karena apa? Karena tidak ada kekebalan."

Menurut Syarif, agar herd immunity bisa tercipta setidaknya harus ada sekitar 80 persen populasi yang terinfeksi. Namun, dalam kasus Covid-19 hal itu sangat berbahaya.

"Kalau 80  persen (penduduk Indonesia) terinfeksi itu berarti 200 juta orang. 40 juta orang yang harus masuk rumah sakit, ya jangan lah, nggak mungkin lah. Ada 10 juta yang meninggal, atau 20 juta yang meninggal, kan nggak mungkin. Tidak relevan kita bicara herd immunity pada kasus Covid-19," ujarnya.

Ia pun menegaskan pemerintah perlu menerapkan langkah pencegahan penyebaran wabah secara serius.

"Apakah penyakit ini serius? Sangat serius karena dia sangat menular. Penyakit ini sangat serius, sangat serius dan membutuhkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang tepat."

"Upayanya apa? Ada dua langkah. Yang pertama bagaimana menurunkan angka kematian supaya serendah mungkin. Yang kedua adalah menurunkan, memotong mata rantai penularan sampai serendah mungkin, sampai akhirnya kita tidak lagi menemukan satu pun kasus baru selama 28 hari berturut-turut. Maka pada saat itu, kita akan menyatakan bahwa wabah di wilayah kita selesai," pungkasnya. 

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja