Sidang, Ini Alasan Ratna Sarumpaet Berbohong

"Itu di luar kebiasaan saya. Di luar saya orang yang disiplin juga,"

NASIONAL

Selasa, 14 Mei 2019 12:49 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Sidang, Ini Alasan Ratna Sarumpaet Berbohong

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet (tengah) saat mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

KBR, Jakarta- Terdakwa kasus hoaks penganiayaan, Ratna Sarumpaet, menjalani sidang lanjutan pemeriksaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam persidangan, Ratna mengaku membuat cerita bohong telah dianiaya karena panik dan malu.

Ratna memilih membuat cerita telah dianiaya, karena hal itu yang dianggap menggambarkan kondisinya usai melakukan operasi plastik. Hasil operasi plastik ini tidak sama dengan tiga operasi plastik sebelumnya.

"Saya mungkin panik saya tidak tahu. Itu di luar kebiasaan saya. Di luar saya orang yang disiplin juga," ujar Ratna di PN Jaksel, Selasa (14/05).

Awal kebohongannya itu ia ceritakan kepada staf pribadinya bernama Rubani. Lanjutnya, kebohongannya itu mengalir tanpa ada skenario hingga meluas ke publik.

Ratna Sarumpaet menjadi terdakwa dalam kasus penyebaran berita bohong atau hoaks. Ratna disebut menyebarkan hoaks gambar wajahnya bengkak dan mengaku telah dianiaya. Padahal kondisi bengkak itu merupakan efek operasi plastik yang dijalaninya di RS Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat.

Akibat perbuatannya, Ratna didakwa melanggar Peraturan Hukum Pidana atau Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.