4 Tokoh Nasional Jadi Target, DPR Bakal Minta Penjelasan Kapolri

"Tentu Polri juga belum mau membuka semuanya kepada publik, termasuk kepada DPR. Itu hal yang wajar saja. Tapi nanti kita pasti akan tanyakan ke Polri."

, NASIONAL

Selasa, 28 Mei 2019 14:13 WIB

Author

Heru Haetami, May Rahmadi

4 Tokoh Nasional Jadi Target, DPR Bakal Minta Penjelasan Kapolri

Personel kepolisian bersiap menembakkan gas air mata ketika terjadi kericuhan Aksi 22 Mei di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Rabu (22/5/2019). (Foto: ANTARA/ Nova W)

KBR, Jakarta - Komisi Hukum DPR bakal menagih penjelasan ke Kapolri Tito Karnavian mengenai dugaan ancaman pembunuhan yang menyasar 4 tokoh nasional. Informasi ini mengemuka setelah kepolisian menangkap dua kelompok yang disebut memicu ricuh dalam aksi 22 Mei 2019.

Dalam konferensi pers pada Senin (27/5/2019), juru bicara kepolisian Mohammad Iqbal menyatakan ada kelompok lain yang diduga diperintahkan untuk membunuh empat tokoh nasional. Temuan ini kata Iqbal, merupakan tindak lanjut dari investigasi tim polisi mengusut kerusuhan pasca pengumuman rekapitulasi suara Pilpres 2019 tersebut.

Anggota Komisi Hukum DPR, Arsul Sani mengatakan masih menunggu polisi merampungkan penyidikan.

"Ya itu harus ditanyakan, dikonfirmasikan. Saya kira nanti pada saatnya kami yang di komisi 3 itu akan minta penjelasan yang lebih komprehensif lah dari Kapolri. Kan sekarang ini juga sedang dalam penyidikan. Tentu Polri juga belum mau membuka semuanya kepada publik, termasuk kepada DPR. Itu hal yang wajar saja. Tapi nanti kita pasti akan tanyakan ke Polri," kata Arsul saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Ia meminta polisi harus mengusut tuntas dalang kerusuhan aksi 22 Mei. Arsul mengaku sudah menduga jika pasti ada potensi 'penumpang gelap' dalam setiap unjuk rasa yang tak sesuai peraturan.

"Kan sebetulnya oleh kalangan intelijen itu kan sudah diingatkan, bahwa unjuk rasa atau demo yang diluar peraturan itu sangat berpotensi untuk ditumpangi oleh penumpang gelap."

Menurut Arsul, ricuh yang pecah di tengah massa aksi menyampaikan pendapat menunjukkan demokrasi di Indonesia yang belum matang.

"Kalau kemudian itu ga dilihat dan kemudian yang dikedepankan hanya soal hak berdemokrasi, kebebasan berekspresi ya itulah masalahnya. Ada disitu. kenapa? Karena kan memang demokrasi kita itu kan belum cukup dewasa lah," tutupnya.

Baca juga:

BIN Terima Info Beragam Seputar Aksi 21-22 Mei

Badan Intelijen Negara (BIN) telah mengendus pelbagai rencana dalam kerususuhan aksi 21 dan 22 Mei lalu. Juru Bicara Wawan Purwanto mengatakan, salah satunya soal empat tokoh nasional yang dijadikan target pembunuhan.

"Itu memang iya. Tapi kan belum terjadi itu. Masih dalam wacana. Dalam perencanaan mereka. Tapi mampu digagalkan karena keburu tertangkap duluan. Kalau rencana kan tentu bermacam-macam, apalagi dalam situasi riot," kata Wawan saat dihubungi jurnalis KBR, Senin (27/5/2019).

Dia enggan menyebut empat tokoh itu. Tapi Wawan mengatakan, target membunuh empat tokoh nasional itu adalah pesanan dari seseorang. Artinya, empat tokoh tersebut tidak dengan sendirinya menjadi musuh bersama.

"Gak bisa dibuka. Tetap kita berikan satu pengamanan yang cukup," kata dia.

Wawan menjelaskan, ada kelompok yang dipesan untuk membuat demonstrasi pada 21 dan 22 Mei itu rusuh. Ketika ricuh pecah dan ada kemungkinan membunuh empat tokoh maka kelompok pesanan itu bakal melancarkan aksi.

"Semuanya masih dalam BAP. BAP ini rahasia. Masih dalam proses penanganan."

Sementara, Wawan mengungkapkan ada kemungkinan massa kembali menggelar aksi saat Mahkamah Konstitusi (MK) memutus perkara Pemilu 2019. Dia berharap, massa memahami situasi saat ini dan tetap dalam kendali.

"Yang terpenting demo tidak rusuh dan mereka harus paham supaya tidak ditunggangi," kata dia.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Mahkamah Konstitusi Gelar Sidang Perdana, Perselisihan Hasil Pemilu

10 Tahun UU Narkotika: Seperti Apa Implementasinya?

Sidang Perdana Sengketa Pemilu

Cek Fakta: Misleading Content KPU Panik

What's Up Indonesia