Petani Telukjambe Rela Dipindah ke Lokasi Baru

"Presiden menjanjikan para petani akan memiliki sertifikat tanah yang nanti akan diserahkan negara," kata Maman.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 04 Mei 2017 15:34 WIB

Author

Dian Kurniati

Petani Telukjambe Rela Dipindah ke Lokasi Baru

Anak-anak petani Telukjambe saat mengungsi di Panti Asuhan Muhammadiyah, Jakarta Barat, Rabu (3/5/2017). (Foto: Dian Kurniati/KBR)


KBR, Jakarta - Ketua Serikat Tani Telukjambe Bersatu Maman Nuryaman mengklaim para petani bersedia direlokasi dari lahan sengketa dengan PT Pertiwi Lestari, di Desa margakaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Maman mengatakan para petani tidak mempersoalkan apabila pemerintah menyediakan lahan pengganti, berupa lahan rumah dan fasilitas pendukung. Namun, Maman berharap, pemerintah memastikan sertifikat lahan atas nama petani.

"Enggak apa-apa. Asal hak atas tanah dikeluarkan oleh pemerintah. Dan kami meminta bantuan, kami minta penggantian kerugian petani atas lahan dan tanaman yang sudah dihancurkan perusahaan. Seperti sarana ibadah, listrik, rumah-rumah. Kami minta diganti," kata Maman kepada KBR di tempat pengungsian di Panti Asuhan Muhammadiyah Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Para petani Telukjambe sudah sepekan menggelar aksi keprihatinan dengan cara mengubur diri di seberang Istana Merdeka, Jakarta. Mereka menuntut pemerintah pusat segera menyelesaikan konflik lahan dengan perusahaan pengembang, PT Pertiwi Lestari yang sudah mendapat izin dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Pada Rabu (3/5/2017), perwakilan petani Telukjambe diundang ke Istana oleh Presiden Joko Widodo.

Dalam pertemuan itu, kata Maman Nuryaman, Presiden berjanji akan menyelesaikan konflik agraria di Telukjambe serta mengembalikan lahan rumah dan lahan pertanian kepada petani.

Menurut Maman, Presiden juga memastikan para petani itu akan tetap berada dalam satu kampung dan tidak terpisah-pisah. Namun dalam pertemuan itu belum ada kejelasan mengenai mekanisme pengembalian lahan serta nilai kerugian yang akan dikembalikan ke petani.

Baca juga:


Pertemuan dengan Jokowi

Ratusan petani Telukjambe sebelumnya mengungsi ke Jakarta, setelah rumah dan lahan pertanian mereka dikuasai secara paksa oleh PT Pertiwi Lestari dengan bantuan aparat kepolisian, pada Oktober 2016 lalu. Warga mengungsi karena mendapat intimidasi terkait konflik lahan dengan perusahaan pengembang itu. Apalagi, 40-an petani ditahan polisi atas tuduhan menyerang aparat.

Sekitar sebulan tinggal di Jakarta, ratusan petani Telukjambe termasuk anak-anak dikembalikan ke Karawang, namun bukan ke lahan asal mereka. Warga dipindah ke rumah susun Adiarsa milik pemerintah Kabupaten Karawang. Kebutuhan warga ditanggung pemerintah Karawang. Hanya saja, bantuan itu tidak lama. Pemberian bantuan berakhir Februari 2017, dan setelah itu petani terlantar.

Para petani kemudian kembali ke Jakarta untuk meminta perhatian dari pemerintah pusat. Termasuk dengan menggelar aksi kubur diri di seberang Istana Merdeka. Hingga kemudian ditemui Presiden.

Sebelum bertemu Jokowi, pada pukul 08.00 WIB, Maman bersama sembilan petani Telukjambe lainnya menunggu 50 menit di Kantor Staf Presiden. Baru kemudian, pada pukul 09.00 WIB, mereka bertemu Jokowi.

Di pertemuan selama 1,5 jam itu, hadir pula Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofjan Djalil serta Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki.

Selama tiga hari ke depan sambil menunggu kabar Jokowi, kata Maman, para petani tidak akan menggelar aksi kubur diri di depan Istana Merdeka. Namun, apabila dalam tiga hari tak ada kabar dari Jokowi, para petani siap menggelar aksi kubur diri dengan peserta yang lebih banyak.

"Kami sampaikan semua permasalahan ke Presiden. Mulai dari kronologis-kronologis tanah, kronologis kejadian konflik. Semua diutarakan ke Presiden Jokowi. Lalu, Pak jokowi meminta waktu tiga hari untuk kembalikan masyarakat ke lahan. Apakah ke kampung yang sama atau ke ke lokasi lain. Tetapi hak atas tanah untuk petaninya akan dikukuhkan," kata Maman.

Maman mengatakan Presiden juga meminta warga menghentikan aksi kubur diri.

"Presiden menjanjikan para petani akan memiliki sertifikat tanah yang nanti akan diserahkan negara," kata Maman.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Pemisahan Sel Napi LGBT Tuai Protes

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Dinilai Lamban Antisipasi Gagal Panen di Musim Kemarau

Menyiasati Mahalnya Biaya Pendidikan