Wacana Simposium Tandingan Dianggap Bentuk Provokasi

Simposium tandingan dinilai sebagai bentuk provokasi pihak yang tidak menginginkan tragedi 1965 diselesaikan.

BERITA , NASIONAL

Senin, 16 Mei 2016 22:50 WIB

Author

Bambang Hari

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965, Bedjo Untung. Foto: KBR/Danny Setiawan

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965, Bedjo Untung. Foto: KBR/Danny Setiawan

KBR, Jakarta- Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965, Bedjo Untung menilai ada upaya menggagalkan hasil simposium tragedi 1965 yang digagas pemerintah. Padahal, rekomendasi dari simposium tersebut dijadwalkan bakal segera diumumkan.

Hal itu dikatakan Bedjo saat menanggapi adanya wacana untuk membentuk simposium tandingan yang digagas sejumlah Purnawirawan TNI Angkatan Darat.

Ia menilai, wacana tersebut sebagai bentuk provokasi pihak-pihak tertentu, yang selama ini tidak menginginkan tragedi 1965 diselesaikan.

"Kalau dilihat dari perspektifnya, atau tujuannya untuk menandingi Simposium yang dilakukan oleh Pemerintah, yang memang sudah jelas arahnya untuk rekonsiliasi maupun pengungkapan kebenaran, maka hal itu akan memprovokasi. Orang-orang itu memang tidak ingin upaya rekonsiliasi tercapai dan berdamai dengan masa lalu. Ini berarti bertolak belakang dengan keinginan Presiden Joko Widodo," katanya kepada KBR, Senin (16/5/2016).

Sebelumnya, sejumlah Purnawirawan TNI mewacanakan simposium tandingan pada 1 dan 2 Juni 2016 mendatang. Para pensiunan TNI ini menganggap simposium sebelumnya tidak mengakomodasi semua pihak, sehingga mereka memutuskan untuk membentuk simposium lain. Simposium tandingan ini didukung oleh Ketua DPP Gerakan Bela Negara, Budi Sujana, Ketua Persatuan Purnawirawan TNI AD Suryadi, dan Ketua Dewan Pengkajian di organisasi Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat Kiki Syahnakri.

Gagasan itu muncul setelah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memanggil sejumlah Purnawirawan TNI, dan organisasi masyarakat untuk membahas isu seputar kebangkitan paham komunisme, yang sedang marak akhir-akhir ini.

Baca juga: Tim Perumus Rampungkan Rekomendasi Simposium 65

Editor: Malika

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kinerja KPK Setelah Komisioner Kembalikan Mandat?