Penggalian Kuburan Massal '65, Banyak Lahan Sudah Beralih Fungsi

Jika nanti rekomendasi memuat penggalian kuburan massal, maka Komnas HAM akan mengecek lokasi-lokasi yang lahannya sudah beralih fungsi.

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Mei 2016 13:20 WIB

Author

Agus Lukman

Penggalian Kuburan Massal '65, Banyak Lahan Sudah Beralih Fungsi

Untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia menyelenggarakan simposium tentang Peristiwa 1965, yang melibatkan para penyintas, Senin (18/04) di Jakarta.Foto: KBR

KBR, Jakarta- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Komnas HAM menilai proses penggalian kuburan massal bakal menghadapi kendala karena sebagian kuburan massal itu berubah fungsi menjadi perumahan atau bangunan.

 Meski demikian Anggota Komnas HAM Nurcholis mengatakan yang terpenting adalah mendata tempat-tempat yang masih terbuka dan dimungkinkan untuk penggalian.

"Yang penting ada upaya. Yang terpenting, mana daerah yang paling mungkin (digali) dulu. Daerah yang sulit (digali) ya kita pikirkan. Karena itu menyangkut hak orang lain di atasnya. Apakah orangnya diberi ganti rugi atau bagaimana. Yang penting identifikasi daerah-daerah yang mudah (digali) lebih dulu. Kemudian kita lihat bagaimana komitmennya. Kalau disepakati ada penggalian, kalau ada kesepakatan (penggalian), ya pasti akan dicek lagi. Karena lokasinya banyak. Hampir di seluruh provinsi. Kita cek ulang," kata Nurcholis kepada KBR, Senin (9/5/2016)

Anggota Komnas HAM Nurcholis yang juga menjadi Anggota Tim Perumus Simposium Nasional Tragedi 1965 mengatakan jika nanti rekomendasi memuat penggalian kuburan massal, maka Komnas HAM akan mengecek lokasi-lokasi yang lahannya sudah beralih fungsi. 

Sebelumnya Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 Bejo Untung menyebutkan ada 120-an kuburan massal yang terdapat di Indonesia dalam kasus tragedi 1965. Dari data itu banyak kuburan massal yang sudah berubah fungsi lahannya menjadi perumahan atau bangunan lain. 

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

'Kiat Membuat Quality Time Bareng Keluarga'

Kabar Baru Jam 7

Sekolah Tatap Muka Mesti Diawasi

Kabar Baru Jam 8

Vaksinasi Covid-19 saat Berpuasa