Menlu Retno Serahkan Empat WNI Sandera Abu Sayyaf kepada Keluarga

Mereka disandera oleh kelompok Abu Sayyaf faksi Alden Bagade dan dibebaskan pada 11 Mei 2016.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 13 Mei 2016 17:18 WIB

Author

Randyka Wijaya

Menlu Retno Serahkan Empat WNI Sandera Abu Sayyaf kepada Keluarga

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Foto: Setkab

KBR, Jakarta- Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyerahkan empat Warga Negara Indonesia (WNI) sandera kelompok Abu Sayyaf kepada keluarga. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan korban dalam kondisi sehat.

"Mereka telah menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Gatot Soebroto dan dari hasil pemeriksaan mereka dinyatakan sehat. Oleh karena itu, kami serahkan keempat Warga Negara Indonesia ini kepada pihak keluarga dengan sekali lagi mengucapkan syukur Alhamdulillah," kata Retno Marsudi di Gedung Pancasila, Kemlu, Jakarta, Jumat (13/05/2016).

Keempat WNI itu adalah Nahkoda M Ariyanto Misnan, Chief Officer Lorens Marinus Petrus Rumawi, serta dua staff Dede Irfan Hilmi dan Samsir.

Sebelumnya, kelompok militan asal Filipina Abu Sayyaf menyandera mereka di Pulau Sulu sejak 15 April 2016. Mereka disandera oleh kelompok Abu Sayyaf faksi Alden Bagade dan dibebaskan pada 11 Mei 2016. Mereka dibawa dari Filipina ke Tarakan, Kalimantan tengah dengan kapal laut dan tiba di Jakarta tadi pagi.

Pemerintah memastikan pembebasan sandera dilakukan tanpa uang tebusan. Menlu juga berterima kasih terhadap pemerintah Filipina dan Panglima TNI yang turut serta dalam upaya pembebasan keempat sandera tersebut. 

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme