Menhan Bantah Sudah Setuju Simposium Tandingan

Bekas Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Kiki Syahnakri mengklaim Kemenhan sudah tahu dan dukung rencana tersebut.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 13 Mei 2016 20:20 WIB

Author

Ninik Yuniati

Menhan Bantah Sudah Setuju Simposium Tandingan

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan peritiwa 65 sebaiknya tidak perlu dibahas. Ia terang-terangan tidak setuju dengan Menteri Kordinator Bidang Politik dan HAM Luhut Binsar Panjaitan soal penyelenggaraan simposium tragedi 65/66, April lalu.  Ryamizard bersikukuh simposium hanya membuka luka lama.

"Sudahlah, selesaikan. Hiduplah kita bersama. Kita bangun negara. Ini kok muncul-muncul. Kalau kata orang Betawi ngeledek-ngeledek. Itu kan lama-lama bikin orang marah,"kata dia merespon pertanyaan soal simposium, Jumat(13/5/2016).

Ryamizard juga membantah dirinya memberikan dukungan terkait rencana menggelar simposium tandingan seperti yang digagas beberapa bekas TNI. Namun, jika simposium tandingan itu terlaksana, Ryamizard berharap itu jadi yang terakhir.

"Saya sangat menyesalkan simposium. Simposium dibalas simposium. Nanti akan banyak-banyak. Nah mudah-mudahan satu itu aja deh. Menjawab yang itu, udah. Simposium yang kemarin kan  berpihak pada kiri, jelas."

Soal isu kebangkitan komunis di Indonesia, Ryamizard mengatakan pemerintah masih selidiki penyebar isu. Namun ia menyayangkan kejadian ini. "Dulu kita bilang laten. Ternyata beneran ada. Yang disayangkan, anak-anak kecil yang disuruh maju. Pengecut itu." 

Sebelumnya, persatuan purnawirawan TNI dan sejumlah organisasi kemasyarakatan berencana menggelar simposium tandingan untuk membahas tragedi 65/66. Kata bekas Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Kiki Syahnakri mengklaim Kemenhan sudah mengetahui dan mendukung rencana tersebut.

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Bertahan di Tengah Kepungan Asap Karhutla

Kabar Baru Jam 12