Masyarakat Literasi Yogjakarta: Buka Arsip Terkait Peristiwa 65!

Kebebasan masyarakat dijamin oleh konstitusi untuk belajar soal sejarah masa lalu

BERITA | NASIONAL

Selasa, 17 Mei 2016 15:06 WIB

Author

Eli Kamilah

Masyarakat Literasi Yogjakarta: Buka Arsip Terkait Peristiwa 65!

Memperingati Hari Buku Nasional Masyarakat Literasi Yogyakarta menolak pemberangusan pikiran terhadap buku-buku kiri di kantor LBH Yogyakarta. Foto: LBHyogyakarta

KBR, Jakarta- Masyarakat Literasi Yogyakarta (MLY) mendesak lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) membuka secara bebas arsip-arsip negara terkait tragedi 1965 dan pelanggaran HAM lainnya. 

Menurut Koordinator Lapangan Aksi MLY, Faiz Ahsoul, kebebasan masyarakat dijamin oleh konstitusi untuk belajar soal sejarah masa lalu. Kata Faiz selama ini pengetahuan soal buku-buku sejarah tersebut tidak dipahami masyarakat termasuk aparat yang melakukan sweping. 

"Buka arsip terkait dokumen 65-66 dan pelanggaran HAM berat. Karena selama ini kan akses ke sana cukup susah, tidak semua peneliti bisa mengakses ke sana secara mudah,"kata Faiz kepada KBR, Selasa (17/5/2016).

Sikap para penerbit, asosiasi buku sampai komunitas literasi ini disampaikan terhadap aksi sweping buku terkait 65 dan teror terhadap buku HAM lainnya. 

Selain desakan terhadap ANRI, Masyarakat Literasi Yogyakarta juga mendesak kebebasan berserikat, tata cara penyelesaian beda pendapat, mendorong pemerintah untuk menciptakan iklim buku yang sehat, aturan main yang jelas tentang asas harian ekosistem perbukuan, dan mendesak Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) untuk mengambil peran signifikan dalam membangun komunikasi dengan elemen-elemen masyarakat. Menurutnya, peran IKAPI penting untuk mengawal dunia buku dari tindakan teror ataupun pelarangan.

"IKAPI sebagai keterwakilan dari pemerintah yang selama ini media dengan kawan-kawan buku salah satunya dengan IKAPI. Namun hingga saat ini, terutama pusat tidak ada suara sama sekali,"ujar Faiz.

Masyarakat Literasi Yogyakarta menggelar aksi mereka hari ini. Mereka menolak pemberangusan pikiran terhadap buku-buku kiri. Di Yogyakarta, tindakan teror terhadap aktivitas literasi menimpa setidaknya dua penerbit dan satu toko buku. Mereka adalah penerbit Narasi di daerah Deresan, penerbit Resist Book (Maguwoharjo), dan Toko Buku Budi (Caturtunggal), pada Selasa dan Rabu, pekan lalu.

Sikap MLY dibacakan di LBH Yogyakarta, hari ini bertepatan dengan Hari Buku Nasional. Acara tersebut dihadiri oleh banyak tokoh penting di dunia perbukuan, seperti Garin Nugroho, Irwan Bajang yang notabene adalah pemilik Indie Book Corner, dan Ade Ma'ruf, seorang pegiat buku Jogja, dan para penggerak literasi di Jogja. 

(Baca juga: Istana: Kepala Perpustakaan Nasional Overdosis!)

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Antisipasi Arus Balik Pemudik ke Jakarta