Bagikan:

LPSK Masih Kaji Bentuk Perlindungan Korban Perkosaan Kediri

Keputusan LPSK soal perlindungan itu sedang difinalkan.

BERITA | NASIONAL

Senin, 23 Mei 2016 15:38 WIB

Author

Eli Kamilah

LPSK Masih Kaji Bentuk Perlindungan Korban Perkosaan Kediri

PN Kabupaten Kediri menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun dan denda sebesar Rp 300 juta kepada terpidana Sony Sandra. Foto: KBR/Hadi

KBR, Jakarta- Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, LPSK masih mengkaji bentuk perlindungan bagi anak-anak korban perkosaan di Kediri, Jawa Timur. Salah satu Anggota LPSK, Lili Pantauli Siregar mengatakan LPSK akan menentukan apakah puluhan korban membutuhkan pendampingan, pemulihan atau mungkin lebih butuh permintaan restitusi kepada pelaku. Kata Lili, perlindungan akan diberikan terhadap saksi persidangan dan korban perkosaan lainnya.

Keputusan LPSK soal perlindungan itu, kata Lili akan final, Senin pekan depan.  "Bentuk perlindungan menurut UU ada banyak. Misalnya soal layanan bantuan, pendampingan, rehabilitas, psiko sosial dan soal fasilitasi restitusi. Jadi mana yang dibutuhkan. Penting dilindungi? penting, tapi perlindungan yang manakah,"kata Lili kepada KBR, Senin (23/5/2016)

Lili mengaku timnya baru kembali dari Kediri akhir pekan lalu. Sehingga LPSK membutuhkan waktu untuk menelaah itu. Namun, dia memastikan korban anak-anak akan menjadi prioritas perlindungan LPSK.

" Sesuai UU ini memang menjadi priorotas, karena anak-anak. LPSK tidak mengecilkan itu, untuk itu LPSK sampai menjemput bola ke sana, meskipun pendampig hanya meminta atensi LPSK lewat sms saja,"ujarnya.

Hari ini, Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun dan denda sebesar Rp 300 juta kepada terpidana Sony Sandra. Ia didakwa melakukan persetubuhan dengan empat anak di bawah umur.

Sementara sebelumnya, dalam persidangan di PN Kota Kediri terpidana Sony Sandra telah dijatuhi hukuman selama 9 tahun penjara dan denda sebesar Rp 250 juta atau 4 bulan kurungan. Atas putusan ini Kejaksaan Negeri Kota Kediri mengajukan banding dengan pertimbangan belum memenuhi rasa keadilan masyarakat dan tidak memberikan efek jera pada terdakwa. 

Baca juga: SS Harus Jalani Gabungan Hukuman 19 Tahun Penjara

Editor: Malika

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending