Komunitas '65: 2 Ribu Korban Dikubur di Sumatera Selatan

"Komnas HAM harus turun tangan, karena untuk memproteksi kuburan itu dari satu intevensi dari tidak diperlukan. Komnas HAM harus mengingatkan, ini bagian dari tugas dan kewajiban mereka."

BERITA | NASIONAL | NASIONAL

Sabtu, 07 Mei 2016 21:24 WIB

Author

Eli Kamilah

Komunitas '65: 2 Ribu Korban Dikubur di Sumatera Selatan

Dokumen korban 65/66. (DOkumentasi: YPKP 65)

KBR, Jakarta - Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 65 Sumatera Selatan menyebut ada dua ribuan lebih korban pembantaian massal 1965 di pulau tersebut. Menurut Sekretaris YPKP Sumsel, Ali Munar, jasad mereka tersebar di berbagai titik. Terbanyak kata Ali ada di kabupaten Pesisir Selatan, dengan jumlah korban lebih dari seribu orang.

"Semua terpencar, seperti di Padang Pariaman, dengan jumlah korban 387 korban yang tersebar di delapan kecamatan. Ada juga di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 1.013 korban, kabupaten Agam/kodya Bukit Tinggi 13 korban, kota Padang 15 korban dan kabupaten Tanah Datar 65 korban," jelas Ali kepada KBR.

Dia menambahkan, selain pesisir selatan, Kota Payangkumbuh menjadi wilayah kedua yang menelan banyak korban, yakni lebih dari 700 orang.

Kepada KBR, Ali bercerita bagaimana satu lubang kuburan digunakan untuk 4 hingga 40 orang. Para korban itu diculik, dijemput paksa dari penjara, dan menghilang. "Ada satu kuburan itu 1-4 orang, tapi ada juga yang sampai 40 orang. Misalnya di Pesisir Selatan," ujarnya.

Sementara, kata Ali ada lebih dari 30 ribu orang yang ditahan di wilayah Sumatera Selatan pada tahun tersebut. Dua persen diantaranya saat ini masih hidup.

Selain Sumatera, Jawa juga menjadi basis pembantaian massal anggota PKI, simpatisan dan orang yang dituding berkaitan dengan partai ini.

Data Kuburan Massal Tersebar, Komnas HAM Diminta Melindungi

Cerita lainnya datang dari Wakil Ketua YPKP 65, Edi Sugianto. Dia mengungkapkan, di daerah asalnya Cirebon, tercatat ada ratusan orang yang hilang dan dibunuh brutal. "Ada di Cirebon Kota, jumlahnya 163 orang, kabupaten kota 35 orang, dan Kabupaten Majalengka 19 orang," ujar Edi.

Kepada KBR, Edi menunjukan kertas usang berlembar-lembar. Dibungkus plastik dan distaples agar tak rusak dan bercecer. Data itu, kata dia, merupakan data dari para relawan desa, yang mendata korban dari rumah ke rumah.

Data terkait lokasi kuburan korban pembantaian masal 65/66 memang masih tersebar di berbagai lembaga penyintas 1965. Menurut Harry Wibowo, bekas Koordinator Tim Pencari Fakta YLBHI, selama ini informasi kuburan massal di daerah tersebar di mana-mana, dan kondisinya banyak yang rusak. Tim, kata dia akan membuat satu data base untuk mengumpulkan jumlah kuburan, kondisi dan lokasi korban pembantaian massal tersebut.

Koalisi Penyeleseian Pelanggaran HAM Berat 1965 juga akan meminta Komnas HAM untuk melindungi kuburan massal tragedi 65/66.

"Komnas HAM harus turun tangan, karena untuk memproteksi kuburan itu dari satu intevensi dari tidak diperlukan. Komnas HAM harus mengingatkan, ini bagian dari tugas dan kewajiban mereka. tidak harus penggalian, tentu saja proteksi formal, harus ini tugasnya mereka. terserah apa ini bisa dijadikan forensik. kuburan ini tidak boleh dihapuskan dan dirusak," tegas Harry Wibowo.

Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun