Bagikan:

Kemenhut Didesak Bebaskan Puluhan Ribu Hektar Hutan di NTT

Bupati Kupang, Ayub Titu Eki mengatakan, lahan tersebut merupakan lahan garapan warga yang sudah ditanami berbagai jenis tanaman. Diantaranya mangga, nangka, dan kelapa.

BERITA | NASIONAL

Senin, 23 Mei 2016 10:07 WIB

Author

Silver Sega

Kemenhut Didesak Bebaskan Puluhan Ribu Hektar Hutan di NTT

Ilustrasi hutan lindung. Foto: Zainudin Syafari

KBR, Kupang - Pemerintah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak Kementerian Kehutanan membebaskan 59 ribu hektar lahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan. Bupati Kupang, Ayub Titu Eki mengatakan, lahan tersebut merupakan lahan garapan warga yang sudah ditanami berbagai jenis tanaman. Diantaranya mangga, nangka, dan kelapa.

"Saya masih akan terus menuntut itu dari Kementerian Kehutanan, karena saya pernah bersurat dan saya akan bersurat sekali lagi. Nanti bersurat kali ini saya minta agar DPR ikut menandatangani surat dan saya tetap akan tuntut supaya 59 ribu hektar yang sudah pernah disetujui secara prinsip benar-benar harus dikeluarkan karena itu murni usulan masyarakat," jelasnya di Kupang, Senin (23/5).

Lagipula kata Ayub, puluhan ribu hektar lahan tersebut, saat ini tampak hijau karena banyaknya tanaman warga.

"Dan kita sudah kerja sesuai dengan kententuan aturan yang berlaku. Jangan mereka paksakan kita meninggalkan kerja berdasarkan aturan dan hanya berada dan
mainan dengan kita duduk di ruangan dan lihat dari sini lihat, ooh itu hijau, Hijau-hijau itu adalah mangga, nangka, kelapa dan sebagainya. Kerja apa model begini," imbuhnya.

Selain itu, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki menambahkan, penetapan kawasan hutan itu tanpa didasari pemahaman masyarakat lokal. Akibatnya, kebijakan pemerintah justru menambah masalah yang baru. Sebab di kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, juga terdapat fasilitas umum seperti gereja dan sekolah serta kantor camat  Amfoang Timur dan Amabi Oefeto. Dia mengatakan lahan seluas 59 ribu hektar itu berada di 23 kecamatan Kabupaten Kupang. 

Editor: Sasmito Madrim

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ketika Pimpinan KPK Tersandung Masalah Integritas

Most Popular / Trending