AJI Yogya Terancam Diusir, Sosiolog UGM: Kelompok Intoleran Bikin Masyarakat Resah

Maraknya aksi pembubaran paksa acara diskusi atau pemutaran film akhir-akhir ini, kata dia, menunjukkan pemerintah tidak serius dalam merawat keberagaman di Indonesia.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 06 Mei 2016 15:44 WIB

Author

Randyka Wijaya

AJI Yogya Terancam Diusir, Sosiolog UGM: Kelompok Intoleran Bikin Masyarakat Resah

Ilustrasi. Kelompok intoleran mendatangi gedung Goethe Insttute menuntut pembatalan acara pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta, Rabu (16/3/2016). Foto: KBR/Angga

KBR, Jakarta- Sosiolog Universitas Gadjah Mada Arie Sujito menyebut adanya kemungkinan masyarakat terprovokasi untuk mengusir Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dari sekretariatnya di Pakel Baru, Yogyakarta. Kata dia, kelompok intoleran yang membuat resah harus ditangani serius oleh pemerintah.

"Saya tidak sedang mengadili masyarakat karena belum tentu masyarakat betulan yang mau mengusir AJI, makanya harus dilacak dulu. Kalau ada oknum-oknum mungkin yang membuat suasana nggak kondusif ya itu harus direspon oleh pemerintah," kata Arie Sujito kepada KBR (06/05/2016).

Maraknya aksi pembubaran paksa acara diskusi atau pemutaran film akhir-akhir ini, kata dia, menunjukkan pemerintah tidak serius dalam merawat keberagaman di Indonesia. Meski begitu, dia melanjutkan, masyarakat Yogyakarta atau Indonesia secara umum mempunyai penghargaan terhadap keberagaman.

"Masyarakat kita kebanyakan kita itu punya penghargaan terhadap pluralisme, bahwa sebagian (intoleran-red) iya, tapi tidak mayoritaslah,"imbuhnya.

Seharusnya, kata dia, kepolisian melindungi kebebasan berkeskpresi masyarakat sesuai amanat konstitusi negara. Kasus-kasus ini, seharusnya mendapat perhatian serius pemerintahan Joko Widodo.

Sebelumnya, AJI mengaku mendapat tekanan untuk pergi dari kantornya di Yogyakarta. Ini adalah buntut dari pembubaran paksa pemutaran film "Pulau Buru Tanah Air Beta" untuk memperingati hari kebebasan pers di kantornya Selasa (03/05/2016). Film itu berkisah tentang kehidupan tahanan politik pada era Orde Baru di Pulau Buru. Namun, acara itu dibubarkan polisi dengan alasan ada penolakan dari warga. 


Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kiat Menjalani Isolasi Mandiri bagi Remaja Terinfeksi COVID-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Demi Oksigen Somasi Dilayangkan