Terima Kasih Buruh untuk 8 Jam Kerja

Bermula dari demo dan mogok besar-besaran di Chicago pada 1886.

NASIONAL

Kamis, 01 Mei 2014 11:16 WIB

Author

Citra Dyah Prastuti

Terima Kasih Buruh untuk 8 Jam Kerja

Buruh, May Day, hari buruh

KBR68H, Jakarta – Tahun ini adalah kali pertama Hari Buruh ditandai sebagai hari libur nasional di Indonesia. 


Keputusan ini ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu dalam bentuk Keppres No 24/2013 tentang penetapan 1 Mei sebagai hari libur. 


Bagaimana sejarah 1 Mei sehingga ditetapkan sebagai Hari Buruh?


Dari Chicago 128 tahun lalu 


Pada 1 Mei 1886 di Chicago, Amerika Serikat, 350 ribu buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan mogok massal dengan satu tuntutan: waktu kerja 8 jam sehari. Saat itu, jam kerja buruh antara 12 sampai 16 jam sehari, bahkan ada pabrik memaksa pekerjanya bekerja sampai 20 jam sehari. Aksi mogok massal ini sukses melumpuhkan semua bisnis di kota tersebut.


Dua hari kemudian polisi menembaki para buruh yang masih mogok. Akibatnya empat buruh tewas dan banyak yang terluka. Pada 4 Mei 1886, buruh kembali menggelar aksi mogok dengan skala yang lebih besar. Aksi damai ini berlangsung di Lapangan Haymarket di Chicago. 


Tiba-tiba sebuah bom dilemparkan ke arah polisi, menyebabkan 70 orang terluka. Polisi pun membabi buta menembaki peserta aksi, sehingga 200 orang terluka dan banyak juga yang tewas. Para buruh yang dituding melempar bom lantas ditangkap dan dihukum gantung, sementara satu orang gantung diri di penjara. 


Aksi demo massal di Chicago ini memicu juga aksi serupa di kota-kota lain. Di New York, aksi demo diikuti oleh 10 ribu buruh, di Detroit oleh 11 ribu buruh, juga di kota-kota lainnya. Tuntutan pengurangan jam kerja juga muncul di Eropa seiring menguatnya gerakan buruh di sana. 


8 jam kerja 


Peristiwa puncak dari perjuangan buruh ini terjadi saat penyelenggaraan Kongres Buruh Internasional tahun 1889. Kongres ini dihadiri ratusan delegasi dari berbagai negara. Kongres memutuskan delapan jam kerja per hari sebagai tuntutan utama buruh di seluruh dunia. Saat itu buruh Amerika Serikat juga menyerukan pemogokan umum pada 1 Mei 1890 dan menjadikan tanggal itu sebagai Hari Buruh Sedunia. 


Delapan kerja per hari ini lantas ditetapkan ILO atau Badan Perburuhan Internasional lewat Konvensi ILO tahun 1919. Konvensi ini menjadi pengakuan internasional secara tidak langsung dari perjuangan kaum buruh sedunia. Penetapan 8 jam kerja sehari jadi penanda berakhirnya bentuk kerja paksa dalam hubungan industrial. 


May Day di Indonesia


Di Indonesia, Hari Buruh mulai diperingati tahun 1920. Pemerintah bahkan pernah mewajibkan peringatan 1 Mei sebagai Hari Buruh lewat Undang-undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang pernyataan berlakunya UU Kerja Tahun 1948. Pasal 15 ayat 2 menyebutkan “Pada hari 1 Mei, buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja.” Ini menjadikan Indonesia sebagai negara Asia pertama yang menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh.


Pada tahun 1948 misalnya, meski sedang berlangsung agresi militer Belanda, Hari Buruh Sedunia dirayakan besar-besaran. Sekitar 200-300 ribuan orang membanjiri alun-alun Yogyakarta. Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin memberikan pidato di hadapan massa buruh dan rakyat. Bahkan Wakil Presiden Muhammad Hatta dan Panglima Besar Jendral Soedirman hadir di sana. 


Tapi karena alasan politik, pemerintah Orde Baru melarang peringatan Hari Buruh Internasional. Peringatan Hari Buruh dihapus dan dicabut dari perayaan hari libur nasional pada 1 Mei oleh Menteri Tenaga Kerja Awaluddin Djamin pada 1967 lewat Keputusan Presiden No 251 Tahun 1967 tentang Hari-hari Libur. Ketika Presiden Soeharto berkuasa, aksi peringatan May Day dianggap kegiatan subversif. Alasannya, peringatan ini dicuragai erat dengan paham komunisme.


Setelah Orde Baru berakhir, 1 Mei kembali dirayakan oleh buruh dengan menggelar aksi demonstrasi di berbagai kota. Dan baru tahun ini, Hari Buruh Sedunia ditandai sebagai hari libur nasional. (berbagai sumber)


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Omnibus Law untuk Siapa?

Kabar Baru Jam 13

Mengimajinasikan Ibu Kota Baru yang Cerdas dan Berkelanjutan (Bagian 2)