Penculikan Aktivis 98, Pernyataan Kivlan Zen Bisa Dorong Keppres Pengadilan HAM

KBR, Jakarta - LSM Hak Asasi Manusia KontraS menilai pernyataan bekas wakil Prabowo Subianto saat menjadi Pangkostrad, Kivlan Zen bisa menguatkan pembentukan Pengadilan HAM Adhoc. Sebab Kivlan mengaku adanya penculikan puluhan aktivis di era orde baru.

NASIONAL

Senin, 05 Mei 2014 15:30 WIB

Author

Indra Nasution

Penculikan Aktivis 98, Pernyataan Kivlan Zen Bisa Dorong Keppres Pengadilan HAM

penculikan, LSM, HAM, Kivlan Zen

KBR, Jakarta - LSM Hak Asasi Manusia KontraS menilai pernyataan bekas wakil Prabowo Subianto saat menjadi Pangkostrad, Kivlan Zen bisa menguatkan pembentukan Pengadilan HAM Adhoc. Sebab Kivlan mengaku adanya penculikan puluhan aktivis di era orde baru.

Sebelumnya dalam sebuah acara TV swasta, Kivlan Zen menyebut jika penculikan 13 aktivis itu disertai dengan pembunuhan. Dia juga menyebut tahu persis tempat pembunuhan 13 aktivis itu. Sebab sampai saat ini keberadaan dan keadaan 13 aktivis itu masih misteri. Bahkan ada atau tidaknya kasus penculikan itu.

Dalam pergolakan 1998 masih ada 13 aktivis yang hilang hingga kini. Mereka adalah Wiji Thukul, Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan Abdun Nasser.

Aktivis KontraS Yati Andriyani menjelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus menyambut pernyataan Kivlan. Presiden juga harus secepatnya mengeluarkan keputusan pembentukan Peradilan HAM Adhoc.

"Presiden harus segera buat Keppres pengadilan ham orang hilang, didukung oleh pernyataan Kivlan," jelas Yati di Kantor KontraS Jakarta, Senin (5/5).

Yati menambahkan Kivlan mempunyai kewajiban hukum untuk memberikan keterangan kepada Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Saat ini kasus penculikan aktivis itu masih mandek di Kejaksaan Agung.

"Pernyataan Kivlan tersebut memiliki kewajiban hukum, dan dia harus memberikan keterangan kepada Kejaksaan Agung dan Komnas HAM. Jika dia tidak memberikan keterangan maka dia menghalangi-ngalangi penyelidikkan," paparnya.

Yati beralasan semua keterangan yang keluar dari mulut Kivlan adalah informasi baru. Sehingga bisa membuka dalang penculikan itu.

"Terkait keterangan Kivlan merupakan kesaksian baru. Sehingga penting untuk Komnas HAM dan Kejaksaan Agung untuk memanggil Kivlan terkait keterangannya," jelas Yati.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8