Nasionalisme dan Pilpres 2014

NASIONAL

Senin, 19 Mei 2014 18:17 WIB

Author

Anto Sidharta

Nasionalisme dan Pilpres 2014

Nasionalisme, Pilpres 2014

KBR, Jakarta  - Apa yang ada di benak Anda soal kata "nasionalisme"? Mungkin kini kata itu sudah tak pernah terlintas sedikit pun di pikiran Anda.  Padahal, kata "nasionalisme" begitu berarti di hari ini, 20 Mei, 106 tahun lalu. Saat itu, pada tahun 1908, berdirinya organisasi Boedi Oetomo, organisasi kepemudaan yang pertama yang memiliki cita-cita Indonesia merdeka.

Nilai-nilai kebangkitan nasional itu diperjuangkan oleh mahasiswa di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang berada di Batavia, Jakarta kala itu. Dari situlah Indonesia berproses menjadi negara.

Namun, semua itu seperti terkubur dalam-dalam di ingatan bangsa ini sejalan dengan berjalannya waktu. Pergelutan ekonomi di tengah persaingan hidup yang ketat menjadi salah satu penyebabnya. Ini diakui seorang ibu rumah tangga di Jakarta, Melani. Menurut dia, nasionalisme kini sudah sirna karena masyarakat kerap mementingkan diri sendiri.

"Kalau peribahasa Jakarta, 'elo-elo, gue-gue. Siapa elo, siapa gue'," tuturnya.

Kata Melani, alih-alih mencintai bangsa dengan sikap nasionalisme, masyarakat sekarang lebih memikirkan untuk "mencari aman" diri sendiri dengan memperkaya diri dan keluarganya. "Banyak anggota masyarakat biasa hingga pejabat yang korupsi," tuturnya.

Sementara, dr. Eveline, salah seorang dokter spesialis anak di sebuah rumah sakit di Jakarta mengatakan, nasionalisme dulu dan sekarang berbeda. Jika dulu nasionalisme identik dengan perang dan unjuk rasa, kini nasionalisme ditunjukkan dengan mengabdi pada masyarakat dan negara dengan sebaik mungkin.

"Kita tidak secara langsung (melakukan tindakan nasionalisme). Kita tak lelah memberitahukan (ke masyarakat) pentingnya sosialisasi pentingnya imunisasi dan air susu ibu (ASI) agar anak-anak Indonesia sehat dan terpenuhi gizinya," tutur Eveline di sela-sela menangani pasiennya, Sabtu (17/5).

Ia mengakui, kesadaran bernasionalisme di masyarakat kini menyusut. Ini terlihat dari maraknya kasus korupsi yang dilakukan pejabat pemerintah dan partai.

"Makanya kita ajarkan anak-anak kita agar tidak seperti itu (nantinya)," tutur Eveline.

Perbandingan dengan Negara Lain

Lemahnya nasionalisme di Indonesia juga diakui Yosepha Martha, seorang karyawan di Jakarta. Ia membandingkannya dengan nasionalisme warga Korea Selatan. Saat berkunjung ke Seoul, ibu kota Korsel September 2013 lalu, ia kaget karena pedagang elektonik menjadi tak ramah ketika ia menanyakan produk asal Jepang.

“Melalui local guide (pemandu wisata, red.) saya, dia (penjual) bilang tak pernah jual merek itu. Mereka hanya jual produk Korea, Samsung,” tutur martha.

Hal itu, kata Marta, dijumpai di hampir setiap toko yang ia sambangi. Kuatnya nasionalisme di Korsel, jelas Martha, juga ditunjukkan dalam berbahasa.

“Mereka tidak memakai bahasa asing (Ingrris, red.). Mereka lebih menghargai jika pendatang (turis) memakai bahasa mereka. Untuk ‘bicara’ soal harga mereka hanya menyodorkan angka di kalkulator,” tambah Martha.

Menurut Martha, situasi ini jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia yang bangga pakai produk luar negeri. “Kita lemah dalam pendidikan moral di keluarga dan sekolah. Kita tak menjaga ‘rasa’ nasionalisme itu,” pungkasnya.

Terkikisnya nasionalisme juga diungkap Idi Sugandi, seorang supir taksi di Jakarta. Ini terlihat dari maraknya kebudayaan asing yang digandrungi anak muda.

"Sekarang ini, kebudayaan lain dari luar negeri yang kuat. (Misalnya) baju, apa-apa dari luar. Berarti nasionalisme berkurang," tutur Idi.

Padahal, kata Idi, warga luar negeri malah tertarik dengan kebudayaan Indonesia, terutama Australia. Ini berbeda dengan masyarakat Indonesia yang malah meninggalkan budayanya.

"Saya pernah ketemu dengan orang Australia yang belajar tentang (budaya) kita. Kata dia, Indonesia banyak ragam, banyak macam," kata Idi.

Apalagi, kata Idi, saat ini tidak ada tokoh yang bisa menyatukan nasionalisme. "Gak ada (tokoh yang bisa menyatukan) karena mereka menekankan golongan saja," tegasnya.

Soal hubungan yang erat antara nasionalisme dan pemimpin nasional alias presiden ini ditegaskan Sejarawan Anhar Gonggong.  Menurut dia, presiden terpilih nanti harus bisa memberantas sikap antinasionalisme, salah satunya korupsi.

“Banyak pejabat yang berengsek dan merusak nilai nasionalisme dengan tingkah laku yang tidak benar yang bertentangan dengan nasionalisme itu sendiri!” tegas Anhar Gonggong.

Karenanya, memperingati Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, ia berharap betul pada presiden terpilih kelak. Masyarakat, kata dia, harus memilih pemimpin yang bisa membangkitkan rasa cinta bangsa atau nasionalisme.

“Karena berubahnya suatu bangsa selalu memang dimulai oleh pemimpin bangsa itu,” pungkas Anhar.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme