Merokok Itu Tidak Gaul!

Makin banyak anak muda yang merokok membuat Yosef Rabindanata Nugraha bergerak membuat Komunitas Indonesia Tanpa Rokok.

NASIONAL

Sabtu, 31 Mei 2014 10:34 WIB

Author

Vitri Angreni

Merokok Itu Tidak Gaul!

Merokok, remaja, iklan, Indonesia Bebas Rokok, Yosef Rabindanata Nugraha

KBR, Jakarta – Dari tahun ke tahun jumlah perokok di dunia termasuk Indonesia terus meningkat. Bahkan seperti yang dilaporkan dalam Jurnal Asosiasi Medis Amerika, jumlah perokok di seluruh dunia sudah mencapai satu milyar orang. Sementara di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun lalu, jumlah perokok penduduk Indonesia berusia 15 tahun keatas  tahun 2013 mencapai 36,3 persen atau sekitar 30 juta lebih. Angka ini naik dibandingkan tahun 2007 yang berjumlah 34,2.

Yosef Rabindanata Nugraha mulai merokok sewaktu kelas 1 SMP sampai kuliah semester 1. Setiap hari ia bisa menghabiskan setengah bungkus rokok. Ketika mulai kuliah itulah, dia menyadari kalau merokok itu melelahkan. Tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan, juga pada dompetnya. Sebagai anak kuliahan, uang jajannya yang tidak seberapa itu habis hanya untuk rokok.
 
Karena itu dua tahun silam, Yosef dan teman-teman yang sepaham memutuskan untuk melahirkan Komunitas Indonesia Bebas Rokok. Misi utama mereka adalah berkampanye soal bahaya merokok, terutama di kalangan anak muda. Karena sasaran mereka anak muda, jalur yang dipakai pun yang banyak dipakai anak muda yaitu media sosial seperti Facebook (facebook.com/BebasRokokID) atau Twitter (twitter @BebasRokokID). Saat ini follower mereka di twiter hampir 9000, sementara di facebook sekitar 3000an.

Komunitas ini memilih untuk berkampanye lewat karya-karya kreatif karena melihat kampanye lewat media ini masih jarang. Alasan lain karena para anggotanya tidak punya latar belakang ilmu kesehatan sehingga menganggap diri kurang kompeten bila harus berkampanye di sekolah-sekolah. Juga kampanye lewat karya-karya kreatif di media sosial lebih luas jangkauannya.

Yosef mengatakan mereka membuat gambar, video, poster, stiker yang berisi ajakan untuk menghindari rokok. Mereka juga meniru gambar-gambar iklan rokok tapi mengubah tulisannya, seperti “Never Say Yes to Smoking, Stay Health”, “Keren Tanpa Rokok” dan lainnya. Saat ini ada 10 orang yang terlibat aktif menjalankan aktivitas di komunitas ini. Tugas mereka antara lain sebagai desainer gambar, admin web, email dan sosmed, serta juru kampanye kreatif.

Yosef mengaku belum melakukan survei detil soal berapa banyak yang berhenti merokok karena terpapar kampanye mereka. “Tapi dari sosmed ada orang yang mention kita yang tadinya dia merokok, berhenti merokok setelah follow akun Twitter Indonesia Bebas Rokok,” kata dia.
 
Yang dilakukan Komunitas Indonesia Bebas Rokok pun tak sekadar kampanye. Teguran langsung pun mereka lakukan kepada orang-orang yang merokok sembarangan. Reaksi yang mereka terima beragam, ada yang diam saja dan melakukan permintaan mereka, bertanya alasannya sampai marah-marah. Komunitas ini menganggap tidak adil ketika kentut sembarangan dianggap tidak sopan, padahal kentut itu sehat. Sementara merokok sembarangan dianggap sopan, padahal merokok merugikan sekitar.

Perokok VS Bukan Perokok

Menurut Yosef tidak semua yang pengikut mereka di media sosial bukan perokok. Sekitar 30 persen diantaranya adalah perokok tapi sudah paham mengenai dampak rokok dan tidak merokok sembarangan.

Mereka inilah yang sudah sadar kalau dampak merokok tidak hanya dirasakan oleh mereka yang merokok, tapi juga orang di sekitarnya. Karena itu demi bisa menjangkau lebih banyak orang, komunitas ini juga berkampanye ke kelompok yang fokus pada perlindungan anak dan juga lingkungan.
 
“Komunitas perlindungan anak ini masih ada yang belum tahu kalau asap rokok menganggu kesehatan anak-anak. Mulai dari situ kita rangkul mereka untuk juga memasukan tentang rokok,” jelas Yosef.

Sementara itu di kelompok lingkungan, lebih banyak yang melihat asap kendaraan bermotor sebagai sumber polusi utama. “Mereka baru tahu kalau asap rokok nggak cuma menyakiti diri sendiri saja, tapi juga orang lain.”
 
Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia hari ini (31/5), Yosef mengajak anak muda untuk kembali berpikir positif.

“Bahwa rokok itu hal yang nggak gaul, bukan hal yang bisa menarik perhatian orang atau pasangan,” kata Yosef. “Kita justru bisa menarik perhatian orang dengan gaya hidup positif salah satunya dengan tidak merokok.”



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Posko Tuk Tampung Aduan Soal Perda Zonasi Pesisir

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10